Sebelum menjawab ini, perlu ditelisik terlebih dahulu, siapakah yang mereka maksud dengan orang ‘yang mengaku Salafiy’ ini, sebab orang mengaku-aku Salafiy itu banyak. Negara kita tidak ada undang-undang yang melarang orang mengaku diri Salafiy. Pedagang sayur yang sering lalu lalang di depan rumahpun ‘boleh’ mengaku Salafi. Begitu juga dengan Anda, saya, dan sebagian jama’ah NU.

Terlepas dari semua pengakuan itu – dan kita (baca : saya) tidak mau ambil pusing dengannya – istilah Salafiy sendiri adalah masyruu’. Masyruu’ dari sisi penisbatan madzhab atau manhaj beragama kepada generasi as-salafush-shaalih, generasi awal Islam. Allah ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah : 100].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada jamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651, Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ahmad 1/378 & 434 & 442, dan Ath-Thayaalisiy no. 299].

‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu berkata :

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia. Maka Allah pilih Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan kepadanya risalah, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya. Maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum muslimin (yaitu para shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah. Dan apa yang mereka (para shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/379, Al-Bazzaar no. 130, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 8582-8583, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 105, dan yang lainnya; hasan].

Manhajsalaf yang dipegang oleh shahabat tersebut adalah jaminan keselamatan di (dunia dan) akhirat, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Pasti akan datang kepada ummatku, sesuatu yang telah datang pada Bani Israaiil seperti sejajarnya sandal dengan sandal, sehingga apabila di antara mereka (Bani Israaiil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang terangan maka pasti di antara ummatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israaiil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan”. Para shahabat bertanya : “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”.  Beliau menjawab : “Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2641, Al-Hakim 1/218-219, Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/127-128 no. 23-24, Ath-Thabaraniy dalam Ash-Shaghiir 2/29-30 no. 724 & Al-Ausath 5/137 no. 4886, dan yang lainnya; hasan lighairihi].

Oleh karena itu, tidak henti-hentinya para ulama berwasiat kepada kita untuk senantiasa berpegang pada manhaj salaf, karena ia kunci kebaikan umat Islam sepanjang masa. Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah berkata :

وَلَا يُصْلِحُ آخرَ هذه الأمة إلا ما أصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidaklah baik akhir umat ini melainkan dengan apa yang telah menjadi baik awal umat ini” [Asy-Syifaa oleh Al-Qaadliy ‘Iyaadl, 2/88].

namun apakah apakah semua yang mengaku bermanhaf salaf adalah thaifah mansyuroh ?

mari sibak artikel berikut ini:

Sebagai mana yang kita ketahui bahwa Al-Mahdi adalah tokoh Islam yang agung pada penghujung panggung sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi ini, yang akan menegakkan Khalifah ‘ala minhajin nubuwah, meminpin umat manusia dengan keadilan syariat Islam dan menaburkan kemakmuran ke segenap penjuru dunia.
Namun ia adalah manusia biasa, bukan nabi, Rasul apalagi Malaikat. Sehebat apapun kadar keimanan, amal shalih, ketakwaan, keuletan dan ketegarannya; ia tetap manusia yang mempunyai keterbatasan. Ia tidak mampu menunaikan tugas suci tersebut sendirian, ia tetap membutuhkan orang-orang yang berkualitas, ulet, tegar dan setia tanpa pamrih. Dan ia benar-benar mendapatkan pengikut yang diharapkannya tersebut.
Tokoh-tokoh utama yang memegang peranan sentral yang membantu dalam perjuangan Al-Mahdi di akhir zaman. Mereka adalah Thaifah Manshurah, Ashabu Raayatis Suud dan Bani Ishaq dengan menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi serta penjelasan para ulama terhadapnya.
“Wahai orang-orang yang beriman ! barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai Nya dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian Nya), Maha Mengetahui.” (Qs Al-Maidah ayat 54)
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diunkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil.” (Qs Al-Hujuraat ayat 29)
Dalam beberapa hadits yang sahih telah dijelaskan bahwa akan senantiasa ada sekelompok umat Islam yang memegang teguh di atas kebenaran. Mereka melaksanakan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan konsekuen, memperjuangkan tegaknya syariat Islam dan meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam, baik dari kalangan kaum kafir atau kaum munafik.
Kelompok Islam ini disebut Thifah Manshurah atau kelompok yang mendapat kemenangan. Kelompok ini akan senantiasa ada sampai saat bertiupnya angin lembut yang mewafatkan seluruh kaum beriman menjelang hari kiamat kelak. Kelompok ini diawali dari Rasulullah beserta segenap sahabat. Berlanjut dengan generasi-generasi Islam selanjutnya, sampai pada generasi Islam yang menyertai Imam Mahdi dan Nabi Isa dalam memerangi Dajjal dan memerintah dunia berdasar syariat Islam.
Thaifah Manshurah adalah kelompok elit umat Islam. Mereka adalah muslim-muslim militant yang sangat dikhawatirkan oleh musuh-musuh mereka. Rasulullah menamakan kelompok ini sebagai Thaifah Manshurah, kelompok yang mendapat kemenangan. Penamaan ini merupakan sebuah janji kemenangan bagi kelompok ini, baik dalam waktu yang cepat maupun lambat, baik kemenangan materi maupun spiritual.
Hadits-hadits tentang Thaifah Manshurah tersebut adalah:
1. Dari Muawiyah bin Abi Sufyan berkata: saya mendengar Nabi saw bersabda, “Akan senantiasa ada dari umatku ini sebuah umat (golongan, kelompok) yang menegakkan urusan (Agama) Allah. Orang-orang yang mendustakan mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka, demikian pula halnya orang-orang yang memusuhi mereka. Demikianlah keadaan mereka sampai datangnya urusan Allah ,” Dalam riwayat Muslim ada tambahan: “…Dan mereka meraih kemenangan atas manusia.”
Perawi Malik bin Yukhamir berkomentar: saya mendengar sahabat Mua’adz bin Jabal berkata, “Mereka berada di Syam.”
Muawiyah berkata: “Inilah dia, Malik bin Yukhamir yang menerangkan bahwa ia telah mendengar Mua’adz bin Jabal menyatakan bahwa kelompok tersebut berada di syam”
[Bukhari: Kitabul Mnaqib no. 3369, kitabul tauhid no. 6906 dan Muslim: Kitabul Imarah no. 3548]
2. Dari Jabir bin Abdullah berkata: saya mendengar Nabi saw bersabda: “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang diatas kebenaran sampai hari kiamat. Maka pada saat itu Nabi Isa bin Maryam turun (ke tengah mereka). Pemimpin kelompok tersebut berkata kepada Nabi Isa ‘Kemarilah, andalah yang berhak mengimami kami shalat’, Namun Nabi Isa menjawab ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini.” [HR. Muslim: Kitabul Iman no. 225 dan Kitabul Imarah no.3547]
3. Dari Sa’ad bin Abi Waqash berkata: Rasulullah saw bersabda: “ penduduk daerah barat (penduduk Syam) akan senantiasa meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran sampai terjadinya kiamat.” [HR. Muslim: Kitabul Imarah no. 3551]
4. Dari Uqbah bin Amir berkata: saya mendengar Rasulullah bersabda: “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang diatas urusan (Agama) Allah. Mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang bersama mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat, sementara keadaan mereka tetap konsisten seperti itu.”
Abdullah bin Amru bin Ash menimpali: “Benar, kemudian Allah akan mengutus angin yang wanginya seperti minyak wangi dan lembutnya selembut sutra. Angin itu tidak menyisakan seorang pun yang di dalam hatinya ada keimanan sebesar biji sawi, kecuali angin itu mewafatkan orang tersebut. Setelah itu yang tersisa di atas bumi hanyalah orang-orang jahat. Merekalah yang akan mengalami kiamat.” [HR. Muslim: Kitabul Imarah no. 3550]
5. Dari Qurah bin Iyas bahwasanya Nabi bersabda: “Jika penduduk Syam telah rusak, maka tiada kebaikan lagi pada kalian. Dan akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dan meraih kemenangan atas musuh. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu mencelakakan mereka, sampai datangnya kiamat” [HR. Tirmidzi, Ahmad no. 19468 dan 19473 dan Ibnu Hiban. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam silsilah Al- Ahadits Ash-Shahihah no.403].
6. Dari Salamah bin Nufail Al-Kindi berkata: saya duduk di sisi Rasulullah, tiba-tiba seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, masyarakat telah meninggalkan kuda perang dan meletakkan senjata. Mereka mengatakan ‘Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai’.
Mendengar pengaduan tersebut, Rasulullah menghadapkan wajahnya dan bersabda, “Mereka telah berkata dusta!!! Sekarang ini, sekarang ini, justru saat berperang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku ini, satu umat (kelompok) yang berperang diatas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia (orang-orang kafir) dan memberi rizki satu umat (kaum muslimin yang berjihad) dari mereka yang tersesat tersebut (yaitu harta Ghanimah). Demikianlah yang akan terus terjadi sampai tegaknya kiamat, dan sampai datangnya urusan (ketetapan) Allah. Dan kebaikan akan senantiasa tertambat pada ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat…”
[HR. An-Nasai: Kitabul Khail no. 3505 dan At-Thabrani: dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 6231-6233. dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih sunan Nasa’I no. 3333 dan Silsilah Ahadits Shahihah no. 1991]
KARAKTERISTIK THAIFAH MANSHURAH
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang Thaifan Manshurah, dapat disimpulkan bahwa Thaifah Manshurah memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:
1. Berada di atas kebenaran
Kelompok elit ini adalah kelompok umat Islam yang berada di atas kebenaran, kelompok yang memadukan antara illmu yang benar dengan amal yang shalih sesuai tuntutan ilmu. Mereka adalah kelompok yang mengilmui, mengamalkan, mendakwahkan dan memperjuangkan ajaran Islam sebagaimana yang dahulu kala dianut dan diperjuangkan oleh Rasulullah dan generasi sahabat.
Mereka Istiqamah dalam memegang akidah yang benar dan menjauhi bid’ah dan hawa nafsu. Mereka istiqamah diatas akhlak dan perilaku yang diajarkan oleh Rasulullah dan diwarisi oleh generasi sahabat, serta menjaukan diri dari segala sebab kefasikan, kemunafikan dan syahwat-syahwat yang diharamkan.
Mereka Istiqamah dalam berjihad dengan jiwa dan harta, amar makruf nahi munkar dan menegakkan hujah dakwah kepada umat manusia. Mereka Istiqamah dalam mengusahakan segala sarana materi dan spiritual yang akan mendatangkan kekuatan dan turunnya kemenangan dari sisi Allah. Mencurahkan segenap kemampuan untuk menyusun dan membangun kekuatan, atau segala sarana yang menyebabkan turunnya pertolongan Allah adalah bagian dari istiqamah diatas kebenaran. Mengingat mengambil sarana termasuk bagian dari kesempurnaan tawakal dan keimanan kepada takdir. Dalam hal ini, I’dadul quwwah dalam bentuk mempersiapkan kuda dan alat-alat perang termasuk yang senantiasa dilakukan oleh mereka, termasuk ilmu-ilmu perang modern yang semua itu bagian dari upaya menggentarkan (irhab) musuh-musuh Allah.
2. Menegakkan dan memperjuangkan agama Allah
Hadits Tsaubah:
“Dari Tsauban ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya Allah telah melipat bumi untukku, maka aku bisa melihat ujung timur bumi dan ujung baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang dilipat untukku (seluruh muka bumi, sejak ujung timur hingga ujung barat). Aku juga dikaruniai dua perbendaharaan (kekayaan), yaitu perbendaharaan merah (Romawi) dan perbendaharaan putih (Persia).
Sungguh aku telah memohon pada Rabbku, agar umatku tidak dibinasakan semuanya dengan paceklik yang merata, juga tidak dengan musuh dari selain bangsa mereka yang merampas wilayah mereka.
Maka Rabbku berfirman kepadaku: “Wahai Muhammad! Jika aku menetapkan sebuah ketetapan, niscaya tidak ada seorang pun yang bias menolaknya. Aku telah menetapkan umatmu tidak akan binasa karena paceklik yang merata. Juga, umatmu tidak akan binasa karena dikalahkan oleh musuh dari selain bangsa mereka, yang menjajah wilayah mereka. Sekalipun musuh dari seluruh penjuru dunia bersatu untuk menghancurkan umatmu, (niscaya umatmu tidak akan hancur). Akan tetapi, umatku akan hancur lewat peperangan sebagian mereka dengan sebagian yang lain dan sebagian mereka melawan sebagian yang lain.”
Rasulullah saw bersabda kembali: “Yang aku khawatirkan akan menimpa umatku, justru adalah para pemimpin yang menyesatkan. Jika telah terjadi peperangan (bersaudara) diantara umatku, niscaya tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat. Kiamat tidak akan terjadi sehingga ada beberapa suku dari umatku yang bergabung (bersekutu) dengan orang-orang musyrik, dan sehingga ada beberapa suku dari umatku yang menyembah berhala.
Kelak juga akan muncul tiga puluh orang pembohong besar. Setiap orang di antara mereka mengaku dirinya seorang nabi, padahal, akulah penutup seluruh nabi. Sepeninggalku tidak akan ada lagi nabi. Dan akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang berada di atas kebenaran. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu mencelakakan mereka. Demikianlah keadaan mereka sehingga datang keputusan Allah”
(HR. Abu Daud: kitabul fitan no. 3710. dan disahihkan oleh Tirmidzi, Al-Hakim dan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1773 dan silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no 2 dan 1683).
Rasulullah saw menegaskan bahwa Thaifah Manshurah akan senantiasa eksis sampai hari kiamat. Artinya, jihad dalam makna pertarungan militer dengan kekuatan kafir, musyrik, murtad dan munafik juga akan berlangsung sampai hari kiamat. Di saat sebagian besar kaum muslimin telah disibukkan dengan kehidupan dunia, berpaling dari ajaran Islam yang benar, dan meninggalkan jihad yang mengakibatkan jatuhnya kehinaan atas diri mereka.
Dalam kondisi yang demikian itu, Thaifah Manshurah mengemban dua tugas sekaligus. Pertama, kewajiban dakwah amar makruf nahi munkar di tengah kaum muslimin, dengan menyebarkan ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membantah berbagai bid’ah, syubhat dan syahwat. Kedua, memerangi musuh-musuh Islam dari kalangan kafir, musyrik, murtad dan munafik, serta membangun dan mempersiapkan segala sarana dan kekuatan militer dalam rangka jihad fi sabilillah manakala belum mampu untuk mengemban ibadah jihad fi sabilillah.
3. Memperbaharui ajaran Islam yang telah dilalaikan umat
Thaifah Manshurah adalah kelompok umat Islam yang memegang peranan at-tajdid, yaitu menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam yang telah dilalaikan oleh umat Islam, meluruskan ajaran-ajaran Islam yang telah terasing karena berpalingnya sebagian besar kaum muslimin dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui (menghidupkan kembali) ajaran agama umat ini” (HR Abu Daud, Al-Hakim, Ibnu ‘Asakir, Ath-Thabrani, Al-Khathib Al-Baghdadi, Abu Amru Ad-Dani, Al-Baihaqi. Di shahihkan oleh Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Iraqi, Ibnu Hajar, As-Suyuthi, Al-Munawi dan Al-Albani).
Imam Ibnu Atsir Al-Jazri mengatakan, “Yang lebih utama, hadits tajdid itu hendaknya di pahami secara umum. Pernyataan Nabi, bahwa sesungguhnya Allah akan membangkitkan Mujaddid untuk umat ini pada akhir seratus tahun, dapat bermakna seorang atau lebih dari seorang. Hal itu karena lafal ‘man’ bisa berarti satu atau banyak.” {Ibnu Atsir Al-Jazari, Jami’ul Ushul, 11/320}
Iman An-Nawawi menjelaskan hal ini dengan mengatakan: “Boleh jadi Thaifah Manshurah ini tersebar di antara banyak golongan kaum mukmin; di antara mereka ada para pemberani berperang, para fuqaha’, para ahli hadits, orang-orang yang zuhud, orang-orang yang beramar makruf nahi munkar, dan juga para pelaku kebaikan lainnya dari kalangan kaum mukmin. Mereka tidak harus berkumpul di satu daerah, namun bisa saja mereka berpencar di berbagai penjuru dunia.” {Ibnu Hajar Bari Syarh Shahih Bukhari, 20/370}
4. Meraih kemenangan sampai hari kiamat
Allah berfirman “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” {QS Al-Mu’min [40] : 51}
Pertarungan antara Tahifah Manshurah dengan musuh-musuh Islam juga akan diwarnai dengan kalah dan menang. Di antara Ath Thaifah Al-Manshurah akan ada yang terbunuh, tertawan, terluka, terusir dan terzhalimi. Namun, kemenangan akhir akan tetap berada di tangan mereka. Allah berfirman,
“Jika kalian mendapatkan luka, maka mereka pun mendapatkan luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia, dan agar Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman dan mengambil sebagian di antara kalian sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir.” {QS. Ali-Imran [3]: 140-141}
“Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkan agama-Nya atas seluruh agama yang lain” {QS. At-Taubah [9]:33, Al-Fath[48]: 28, As-Shaf [61]:14, Al-Kahfi [18]:20}
5. Kelompok yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang kuat
Rasulullah telah menyebutkan bahwa hari-hari sepeninggal zaman sahabat adalah hari-hari yang menuntut kesabaran ekstra. Hanya orang-orang yang sabar dan meneguhkan kesabarannya semata yang dapat beramal secara istiqamah dalam memperjuangkan agama Allah.
Dari sahabat Abu Tsa’labah Al-Khusani bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya di belakang kalian kelak akan ada masa-masa yang menuntut kesabaran ekstra. Orang yang bersabar di atas ajaran agama (Islam) pada masa itu bagaikan orang yang menggenggam bara api. Orang yang beramal (berjuang demi Islam) pada masa itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya.”
Abdullah bin Mubarak berkata, “Perawi selain Utbah bin Abi Hakim menambahkan riwayat kepadaku bahwa ada sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang di antara mereka?” berliau menjawab, “Bahkan pahala lima puluh orang di antara kalian.”
(HR. Abu Daud: kitab Al-Malahim bab Al-Amru wa Al-Nahyu no. 4341. di sahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no.3959).
“Sesungguhnya di belakang kalian kelak akan ada masa-masa yang menuntut kesabaran ekstra. Orang yang berpegang teguh dengan agamanya pada masa itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mati Syahid dari kalangan kalian (sahabat Nabi).” (HR. Al-Thabrani, sanadnya Shahih).
Dari penjelasan tentang karakteristik Thaifah Manshurah ini bisa disimpulkan bahwa sebagian besar karakteristik ini berkaitan erat dengan tugas yang harus di emban oleh kelompok ini. Karekatistik ini juga menunjukkan sejauh mana usaha yang harus mereka curahkan dalam menegakkan dan membela Agama ALLAH.
maka jelas ciri utama yang paling kuat dari  thaifah mansyuroh adalah :
1. Qital (perang senjata)) sebagaimana para salafus sholeh yg hampir seluruh hidupnya dipenuhi dengan qital. karena orang yang jujur dengan salafinya pasti akan menjadi jihadi.
2. Selalu diembosi / dihina / difitnah (dihina tapi tidak sesuai dengan kenyataan)
3. Ada sebagian ulama meyakini mereka berada di bumi syam seperti kekhususan hadits-hadits diatas, dimana mereka adalah ghuraba (orang asing) dari penjuru dunia yang berjuang di syam, tapi sebagian yang lainmeyakini mereka ada diseluruh dunia.
Semoga Bermanfaat.
Wassalam

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

 

%d blogger menyukai ini: