Oleh: Ust Ibrohim Bafadhol M.Pd.I

Makna Muhkam dan Mutasyabih

Secara bahasa, muhkam diambil dari kata ahkama yang berarti mana’a (mencegah, meng-halangi). Al-Haakim artinya seorang yang bertugas mencegah perbuatan kezhaliman di an-tara manusia. Kalimat yang muhkam adalah kalimat yang mutqan (teliti dan rapi) serta mam-pu membedakan antara yang haq dan batil.

Dalam surat Hud Allah menyifati kitab suci-Nya sebagai kitab yang muhkam.

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.” (QS. Hud: 1)

Demikian pula dalam surat Yunus. Allah berfirman:

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

 “Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah.“(QS. Yunus:1).

Kitab yang muhkam artinya kitab yang mengandung perkataan yang rapi, teliti dan fasih serta mampu membedakan antara yang haq dan batil, antara yang jujur dan dusta. [1]

Dari sisi ini bisa dikatakan bahwa al-Qur’an seluruhnya adalah muhkam, yakni rapi dan baik dalam lafazh-lafazh serta maknanya. Bahkan al-Qur’an berada pada puncak kefasihan balaghah keindahan bahasa. Seluruh kabarnya adalah benar, tidak terdapat di dalamnya kedustaan, tanaqudh (kontradiksi), tidak pula kata-kata yang laghwu (sia-sia). Seluruh hukumnya adil dan mengandung hikmah, tidak terdapat di dalamnya kecurangan, kontra-diksi atau hukum yang bodoh. [2]

Makna Mutasyabih

 

Secara bahasa, mutasyabih adalah dua perkara yang masing-masing dari keduanya mirip dengan yang lainnya sehingga sulit dibedakan. Mutasyabih berasal dari kata tasyaabaha yang berarti saling menyerupai. Dalam al-Mu’jam al-Wasiith disebutkan:

تَشَابَهَ الشَّيْئَانِ: أَشْبَهَ كُلٌّ مِنْهُمَا الاخَرَ حَتَّى الْتَبَسَا

(Masing-masing dari keduanya menyerupai yang lain hingga menjadi tersamar). [3]

Kata ini disebutkan berulang kali dalam al-Qur’an. Seperti dalam firman Allah berikut:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami “ (QS. Al-Baqarah: 70)

Mengenai buah-buahan yang diberikan kepada para penghuni surga, Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka diberi buah-buahan yang serupa “ (QS. Al-Baqarah: 25)

Yakni mereka (para penghuni surga) diberi buah-buahan yang mirip dengan yang ada di dunia, dimana bentuknya terlihat sama tapi rasanya jauh berbeda.

Dan Allah berfirman:

 وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Hati mereka serupa.” (QS.al-Baqarah:118)

Dikatakan: “Dua perkara ini sama bagiku sehingga sulit dibedakan antara keduanya”. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah bersabda:

الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْـتبَِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

“Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Dan diantara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (samar), banyak manusia yang tidak mengetahuinya.” (HR. Bukhari). [4]

Dalam surat az-Zumar Allah menyifati kitab suci-Nya sebagai kitab yang mutasyabih , yakni sebagiannya menyerupai sebagian yang lainnya dalam kesempurnaan dan mutunya serta saling membenarkan di antara ayat-ayatnya.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun.”(QS. Az-Zumar: 23).

Dari sisi ini bisa dikatakan bahwa al-Qur’an seluruhnya mutasyabih . [5]

Muhkam dan Mutasyabih yang bersifat khusus

 

Al-Husain bin Muhammad bin Habib an-Naisaburi, seorang mufassir yang wafat tahun 406 H, menyebutkan bahwa dalam masalah ini ada tiga pendapat di kalangan para ulama:

Pertama: pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur’an seluruhnya adalah muhkam. Mereka merujuk kepada firman Allah :

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Dzat) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.”(QS. Hud: 1).

Kedua: pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur’an seluruhnya adalah mutasyabih . Mereka merujuk kepada firman Allah :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”(QS. Az-Zumar: 23).

Ketiga: -dan inilah pendapat yang benar- bahwa di antara kandungan al-Qur’an ada yang muhkam dan ada yang Mutasyabih . Mereka merujuk kepada firman Allah :

 هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dia-lah yang menurunkan al-Quran kepadamu, di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 7). [6]

Di samping makna yang bersifat umum di atas ada pula makna yang khusus dari muhkam dan mutasyabih . Ada banyak pendapat tentang makna muhkam dan mutasyabih yang bersifat khusus ini. Yang terpenting di antara pendapat-pendapat tersebut ialah:

  1. Muhkam adalah ayat-ayat yang diketahui dengan jelas maknanya, tidak samar sedang-kan mutasyabih adalah ayat-ayat yang hakikat maknanya hanya diketahui oleh Allah
  2. Muhkam adalah ayat-ayat yang hanya mengandung satu makna saja, sedangkan mutasyabih adalah yang mengandung banyak makna.
  3. Muhkam adalah ayat-ayat yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan penjelasan, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan dengan cara mengembalikannya kepada ayat-ayat yang muhkam.

Para ulama memberikan contoh tentang ayat-ayat yang muhkam dengan ayat-ayat nasikh, halal dan haram, huduud, faraidh (kewajiban-kewajiban), wa’ad dan wa’id (kabar gembira dan ancaman).

Sedangkan mutasyabih seperti ayat-ayat yang mansukh, kaifiat nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Seperti firman-Nya:

 الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.’ (QS. Thaaha: 5)

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka.” (QS. al-Fath: 10)

 وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dia-lah yang berkuasa di atas sekalian hamba-hamba-Nya.”(QS. al-An’am: 18)

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“Dan datanglah Rabbmu.” (QS.al-Fajr: 22)

 وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan Allah marah terhadap mereka.(QS. al-Fath: 6)

Dan ayat-ayat sifat lainnya. Juga termasuk contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah huruf-huruf hija’iyah yang menjadi pembuka sebagian surat, hakikat-hakikat tentang kehi-dupan akhirat, dan ilmu tentang hari kiamat. [7]

Ikhtilaf ulama tentang siapakah yang dapat mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabih

Para ulama telah berselisih pendapat tentang siapakah yang mampu mengetahui dengan pasti takwil ayat-ayat yang mutasyabih, apakah hanya Allah saja ataukah orang-orang yang ilmunya mendalam (ar-Raasikhuuna fil ‘ilm) juga dapat mengetahuinya?

Sebab ikhtilaf itu bermula dari ikhtilaf mereka dalam hal waqaf (tempat berhenti) pada firman Allah :

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya.” Apakah kalimat ini sebagai mubtada’ polok kalimat yang khabar-nya yaquuluuna, dan huruf waw untuk isti’naf (memulai kalimat), sedangkan waqaf-nya pada:

” Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah,” ?

Ataukah kalimat tersebut, yakni:

ma’thuf (tersambung), sedangkan yaquuluuna adalah hal, dan waqaf-nya pada firman Allah:

“Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.” ?

Pendapat pertama dianut oleh sekelompok ulama sahabat seperti Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin ‘Abbas serta sebagian tabi’in. Sedangkan penda-pat kedua juga dianut oleh sekelompok ulama, di antaranya Mujahid bin Jabr . Telah diri-wayatkan darinya bahwa ia berkata:

عَرضْتُ المصحف على ابن عباس ثلاث عرضات، من فاتحته إلى خاتمته، أوقفه عند كل آية منه، وأسأله عنها

Aku telah membaca mushaf di hadapan Abdullah bin ‘Abbas tiga kali, mulai dari pembu-kaannya hingga penutupnya, aku meminta beliau berhenti pada setiap ayat lalu aku berta-nya kepada beliau tentang tafsirnya.” [8]

Al-Hafizh as- Suyuthi termasuk di antara ulama yang menganut pendapat pertama. Beliau berkata, “Sebagai dalil akan benarnya pendapat mayoritas ulama adalah apa yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Tafsirnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau membaca:

Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat.’ Ini menunjukkan bahwa huruf waw untuk isti’naf (memulai kalimat). Meskipun riwayat ini tidak tsubut untuk dijadikan qiro’ah (cara membaca al-Qur’an), akan tetapi minimal ia sebagai suatu khabar yang shahih dari tarjumanul qur’an (juru tafsir al-Qur’an) sehingga harus didahulukan daripada pendapat yang lainnya. Hal ini semakin dikuatkan dengan fakta bahwa ayat tersebut mencela mereka yang mengikuti Mutasyabih dan menyifatinya dengan zaigh (kemiringan hati) serta mencari-cari fitnah. Sebaliknya ayat tersebut memuji mereka yang menyerahkan ilmu tentang ini kepada Allah. [9]

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tasirnya, “Adapun firman Allah :

“Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah”, para qurra’ (ahli al-Qur’an) berbeda pendapat mengenai waqaf (tanda berhenti) di sini. Ada yang mengatakan, bahwa waqaf itu pada kata Allah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas , dia berkata:

التفسير على أربعة أنحاء: فتفسير لا يعذر أحد في فهمه، وتفسير يعرفه العرب من لغاتها، وتفسير يعلمه الراسخون في العلم، وتفسير لا يعلمه إلا الله عز وجل

Tafsir itu terbagi menjadi empat macam: pertama, tafsir yang tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak memahaminya. Kedua, tafsir yang bisa dimengerti oleh orang-orang Arab melalui bahasanya. Ketiga, tafsir yang hanya bisa diketahui oleh para ulama yang mendalam ilmunya, dan keempat, tafsir yang hanya diketahui oleh Allah saja.”

Pendapat ini juga diriwayatkan dari Aisyah, Urwah, Abu Sya’tsa, Abu Nuhaik, dan selain mereka.

Sedangkan sebagian qurra’ yang lainnya berpendapat bahwa waqaf ayat itu berada pada kata:

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya.”

Pendapat yang kedua ini diikuti oleh banyak ahli tafsir dan ahli ushul. Mereka mengatakan, “Menyampaikan sesuatu yang tidak bisa difahami adalah hal yang tidak mungkin.”

Telah diriwayatkan Ibnu Abi Nujaih dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia mengatakan: “Aku termasuk salah seorang dari mereka yang mendalam ilmunya serta megetahui takwilnya.”

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah pernah mendo’akan Ibnu Abbas dengan doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allah, berikanlah pemahaman kepadanya dalam masalah agama dan ajarkanlah takwil kepadanya.” (HR. Ath-Thabari). [10]

Di antara para ulama muhaqqiqin yang mengikuti pendapat ini adalah Imam an-Nawawi . Beliau berkata dalam Syarah Shahih Muslim:

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْم هَلْ يَعْلَمُونَ تَأْوِيل الْمُتَشَابِه ؟ وَتَكُون الْوَاو فِي { وَالرَّاسِخُونَ } عَاطِفَة أَمْ لَا ؟ وَيَكُون الْوَقْف عَلَى { وَمَا يَعْلَم تَأْوِيله إِلَّا اللَّه } ، ثُمَّ يَبْتَدِئ قَوْله تَعَالَى : { وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْم يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ } وَكُلّ وَاحِد مِنْ الْقَوْلَيْنِ مُحْتَمَل ، وَاخْتَارَهُ طَوَائِف ، وَالْأَصَحّ الْأَوَّل ، وَأَنَّ الرَّاسِخِينَ يَعْلَمُونَهُ لِأَنَّهُ يَبْعُد أَنْ يُخَاطِب اللَّه عِبَاده بِمَا لَا سَبِيل لِأَحَدٍ مِنْ الْخَلْق إِلَى مَعْرِفَته ، وَقَدْ اِتَّفَقَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهمْ مِنْ الْمُحَقِّقِينَ عَلَى أَنَّهُ يَسْتَحِيل أَنْ يَتَكَلَّم اللَّه تَعَالَى بِمَا لَا يُفِيد . وَاَللَّه أَعْلَم .

“Para ulama berselisih pendapat tentang apakah orang-orang yang yang mendalam ilmunya

(ar-Raasikhuuna fil ‘ilm) mengetahui takwil mutasyabih ? Sehingga huruf waw pada ar-

Raasikhuuna sebagai ‘athaf ? Ataukah waqaf pada

وَمَا يَعْلَم تَأْوِيله إِلَّا اللَّه

kemudian firman Allah berikutnya dimulai dengan

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْم يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ

Masing-masing dari kedua pendapat tersebut memiliki kemungkinan benar dan telah dipilih oleh sekelompok ulama. Sedangkan pendapat yang lebih shahih adalah pendapat yang pertama yaitu orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahui takwil Mutasyabih tersebut karena mustahil Allah berbicara kepada para hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak ada jalan bagi seseorang pun untuk mengetahuinya. Para sahabat kami dan para peneliti lainnya telah sepakat bahwa mustahil Allah berbicara dengan sesuatu yang tidak memberi faidah. Wallahu a’lam.” [11]

Di samping kedua pendapat di atas ada pula sebagian ulama yang berusaha memadukan kedua pendapat tersebut dengan cara memberikan rincian tentang makna takwil. Di antara mereka adalah Imam Ibnu Katsir . Beliau berkata dalam tafsirnya, “Penggunaan kata tak-wil bersifat mutlak (umum), sedangkan penggunaannya dalam al-Qur’an memiliki dua makna:

Pertama, takwil yang berarti hakekat sesuatu dan kesudahan dari suatu perkara, seperti dalam firman Allah :

 وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Yusuf berkata, ‘Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu” (QS. Yusuf: 100)

Dan juga firman-Nya:

 هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ ۚ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ قَدْ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ ۚ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ قَدْ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

– See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/7/53/dialogue-between-the-people-of-a%27raf-and-the-inmates-of-hell-and-inmates-of-hell-shall-beg-for-water-and-food-from-the-residents-of-paradise#sthash.IOse6lFV.dpuf

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) al-Qur’an itu. pada hari datangnya kebenaran pemberitaan al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami dengan membawa yang hak, maka sekarang adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” (QS. al-A’raaf: 53) ya’ni , hakekat tentang apa yang diberitahukan kepada mereka mengenai masalah hari akhir.

Jika yang dimaksud dengan takwil adalah pengertian ini, maka waqaf yang tepat berada pada lafzhul jalalah (kata Allah) karena hakekat segala sesuatu tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Dengan demikian firman Allah :

berkedudukan sebagai mubtada’. Sedangkan

berkedudukan sebagai khabar.

Kedua, jika yang dimaksud dengan takwil adalah makna yang lain (makna kedua), yaitu tafsir, keterangan, dan penjelasan mengenai sesuatu, seperti dalam firman Allah:

“Beritahulah kami takwilnya.” (QS. Yusuf: 36), yakni tafsirnya, maka waqaf nya pada:

karena mereka mengetahui dan memahami apa yang difirmankan kepada mereka dengan ungkapan seperti itu, meskipun mereka tidak secara utuh mengetahui hakekat segala hal.

Berdasarkan hal itu maka firman Allah :

“Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat,” kedudukannya sebagai hal yang menerangkan keadaan mereka. Dan bisa juga berkedudukan sebagai ma’thuf (yang mengikuti) dan bukan ma’thuf ‘alaih (yang diikuti), sebagaimana firman Allah:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan ridha-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

sampai firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami. “ (QS. Al-Hasyr: 10)

Dan seperti firman-Nya:

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“Dan datanglah Tuhanmu serta malaikat dalam keadaan berbaris.” (QS. Al-Fajr: 22), yakni, para malaikat juga datang baris demi baris.

Firman Allah tersebut memberitahukan bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan:

“Kami beriman kepadanya,” yakni ayat-ayat mutasyabihat.

“Semuanya berasal dari Rabb kami.” Yakni, baik ayat yang muhkam maupun ayat yang mutasyabih adalah haq dan benar, keduanya saling membenarkan serta menguatkan. Sebab semuanya berasal dari Allah . Dan tidak ada sesuatu pun yang berasal dari Allah yang berbeda dan bertentangan satu dengan yang lainnya. Sebagaimana firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau sekiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisaa’: 82). [12]

Mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam

 

Dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabih terlihat jelas sekali perbedaan antara orang-orang yang mendalam ilmunya dan orang-orang yang ada kemiringan dalam hatinya. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Sikap orang-orang yang mendalam ilmunya dan orang-orang yang ada kemiringan dalam hatinya telah dijelaskan oleh Allah . Dia berfirman tentang orang-orang yang ada kemiringan dalam hatinya:

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabiaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari tak-wilnya”. (QS. Ali ‘Imran: 7).

Dan Dia berfirman tentang orang-orang yang mendalam ilmunya:

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (QS. Ali ‘Imran: 7).

Orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan menjadikan ayat-ayat yang mutasyabih itu sebagai sarana untuk mencela kitabullah, menyesatkan manusia dan mentak-wilkannya dengan takwil yang tidak dikehendaki Allah . Dengan sikapnya itu mereka telah sesat dan menyesatkan.

Adapun orang-orang yang mendalam ilmunya maka mereka mengimani bahwa apa saja yang tercantum dalam kitabullah adalah haq dan tidak ada pertentangan atau perselisihan di dalamnya, karena ia berasal dari sisi Allah .

“Kalau sekiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisaa’: 82).

Sehingga, apa yang mutasyabih dalam al-Qur’an mereka kembalikan kepada yang muhkam agar semuanya menjadi muhkam.” [13]

Tentang wajibnya mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih kepada ayat-ayat yang muh-kam Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah mengabarkan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat. Itulah ummul kitab, yaitu keterangan dan dalil yang jelas dan tidak tersa-mar bagi siapa pun.

Selain itu, di dalam al-Qur’an juga ada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat yang maknanya masih tersamar bagi mayoritas ataupun sebagian orang. Barangsiapa mengembalikan ayat-ayat yang masih samar itu kepada ayat-ayat yang jelas, serta menjadikan ayat yang muhkam (jelas) sebagai dasar bagi ayat mutasyabihat, maka berarti dia telah mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa melakukan hal yang sebaliknya, maka dia menerima akibat yang sebaliknya pula. Karena itulah Allah berfirman:

هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ

“Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an,” yakni induk atau pokok yang menjadi rujukan ketika terdapat kesamaran.” [14]

Pendapat Ibnu Katsir di atas disetujui oleh Muhammad Ali al-Hasan. Dalam bukunya, Pengantar Ilmu-Ilmu al-Qur’an, dia berkata, “Kadangkala munculnya kesamaran itu karena dikembalikan kepada akal dan pendengaran. Dan bisa dipastikan bahwa yang dimaksud dengan kesamaran adalah sesuatu yang bukan zhahirnya. Oleh karena itu yang dimaksud dengan muta-syabihat wajib dirujuk kepada yang muhkamat, yang telah dijadikan oleh Allah menempati posisi umm (ibu, induk), yaitu asal yang satu, dimana yang mutasyabih harus dikembalikan kepadanya. Karena itu, firman Allah :

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Rabb yang Maha pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thahaa: 5), dalam menaf-sirkan ayat ini harus merujuk kepada firman Allah :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha melihat.(QS. asy-Syura: 11).

Sedangkan firman Allah :

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) lalu mereka melakukan kedur-hakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan) Kami kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16)

Dalam menafsirkan ayat ini harus merujuk kepada ayat:

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek mo-yang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Kata-kanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kalian mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?” (QS. Al-A’raf: 28). [15]

 

Contoh aplikatif

 

Lebih jauh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menyebutkan beberapa contoh tentang ayat-ayat mutasyabih yang harus dikembalikan kepada ayat-ayat yang muhkam. Beliau berkata, “Ayat mutasyabih yang terkait dengan Allah misalnya ialah seseorang menyangka dari firman Allah berikut:

“Tetapi kedua tangan Allah terbuka.” (QS. al-Maidah: 64), bahwa Allah memiliki dua tangan yang sama dengan tangan-tangan makhluk-Nya.

Ayat yang terkait dengan kitabullah misalnya ialah seseorang menyangka bahwa ada saling pertentangan di dalam al-Qur’an ketika dia membaca firman Allah :

“Apa saja nikmat (kebaikan) yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu dari dirimu sendiri.” (QS.an-Nisaa’: 79).

Dan firman-Nya:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

“Dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka berkata, ‘Ini adalah dari sisi Allah,’ dan jika mereka ditimpa sesuatu bencana mereka berkata, ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa mereka hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (QS.an-Nisaa’: 78).

Ayat mutasyabih yang terkait dengan Rasulullah misalnya ialah seseorang menyangka dari firman Allah berikut:

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/10/94/children-of-israel-were-provided-with-good-dwellings-and-food#sthash.IyOwXQRd.dpuf
فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/10/94/children-of-israel-were-provided-with-good-dwellings-and-food#sthash.IyOwXQRd.dpuf

“Maka jika kamu (wahai Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelummu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, Oleh karena itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu.” (QS.Yunus: 94), bahwa Nabi tadinya ragu-ragu tentang apa yang diturunkan kepadanya dari sisi Rabbnya. [16]

Kemudian al-Utsaimin berkata, “Sikap orang-orang yang mendalam ilmunya adalah meng-embalikan apa yang mutasyabih kepada yang muhkam agar semuanya menjadi muhkam. Oleh karena itu mereka berkata tentang misal yang pertama bahwasanya Allah memiliki dua tang-an yang layak bagi keagungan dan kemuliaan-Nya yang kedua tangan-Nya itu tidak sama deng-an tangan makhluk-Nya, sebagaimana Dzat-Nya tidak sama dengan dzat makhluk-Nya. Hal ini karena Allah berfirman dalam ayat yang lain:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi me-lihat.(QS. asy-Syura: 11).

Tentang misal yang kedua, orang-orang yang mendalam ilmunya berkata bahwasanya hasa-nah (kebaikan) dan sayyiah (keburukan) semuanya dengan taqdir , akan tetapi hasanah sebabnya adalah karunia dari Allah kepada hamba-Nya, sedangkan sayyiah sebabnya adalah perbuatan hamba itu sendiri, sebagaimana firman Allah:

“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. asy-Syura: 30).

Tentang misal yang ketiga, mereka berkata bahwasanya Nabi tidak pernah ragu tentang wahyu yang diturunkan kepada beliau dari sisi Rabbnya. Bahkan beliau adalah manusia yang paling mengetahui dan paling yakin tentang kebenaran wahyu tersebut, sebagaimana firman Allah dalam surat yang sama:

“Katakanlah: ‘Hai manusia, jika kalian masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka ketahuilah aku tidak menyembah yang kalian sembah selain Allah.” (QS.Yunus: 94)

Maksud ayat tersebut adalah, wahai manusia, jika kalian masih dalam keraguan tentang aga-ma yang diturunkan Allah itu maka sesungguhnya aku di atas keyakinan tentang agama itu, Oleh karena itu aku tidak menyembah apa saja yang kalian sembah selain Allah. Bahkan aku menging-kari sesembahan-sesembahan itu dan aku hanya menyembah Allah saja.”[17]

Demikianlah sebagian contoh dari cara para ulama dalam mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabihkepada yang muhkam. Dengan demikian maka tidak akan didapati di dalam kitabullah suatu pertentangan pun, bahkan sebagiannya membenarkan sebagian yang lain, dan di antara ayat-ayatnya terdapat saling kesesuaian. Oleh karena itu, dalam memahami al-Qur’an tidak boleh satu ayat dipahami terpisah dari ayat-ayat lainnya.

Kesimpulan

 

Dari pemaparan di atas kiranya dapat kita simpulkan bahwa:

  1. Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mutasyabih dan yang muhkam.
  2. Ayat-ayat yang mutasyabih adalah ayat-ayat yang mengandung lebih dari satu pengertian, atau tersamar maknanya, dan tidak bisa dipahami dengan benar kecuali oleh orang-orang yang mendalalam ilmunya.
  3. Sikap yang benar terhadap ayat-ayat yang mutasyabih adalah mengimaninya bahwa ia berasal dari Allah , benar dan tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya. Kemudian mengembalikannya kepada ayat-ayat yang muhkam yang Allah telah menyifatinya sebagai ummul kitaab (induk al-Qur’an). Dengan demikian maka tidak akan dijumpai suatu pertentangan atau kontradiksi dalam kitabullah.
  4. Sebaliknya, sikap orang-orang yang memiliki kemiringan dalam hatinya adalah mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih dengan tujuan untuk menimbulkan fitnah (kekacauan, kerancuan) dan menyesatkan manusia dari petunjuk Allah yang haq.
  5. Hikmah dari adanya ayat-ayat yang mutasyabih adalah sebagai batu ujian bagi keimanan manusia.

Wallahu a’lam bish Shawaab.

DAFTAR PUSTAKA

al-Hasan, Muhammad Ali, 2007, Pengantar ilmu-ilmu al-Qur’an, Bogor: Pustaka Thariqul ‘izzah.

al-Hasani, Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki, , Zubdatul Itqaan fii ‘Uluumi al-Qur’an, Jeddah: Daar asy-Syuruuq.

al-Mubarakfuri, shafiyyurrahman, 2006, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.

an-Nawawi, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf,1422 H, Syarah Shahih Muslim, Beirut: Daar al-Ma’rifah.

al-Qaththan, Manna’, 1973, Mabaahits fii ‘uluumi al-Qur’an, Beirut: asy-Syarikah al-Muttahidah.

al-‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Rasaail fii al-Ushuul, Mesir: Daar al-Bashirah, Iskandariyah.

az-Zarkasyi, Badruddin Muhammad bin Abdullah, 1427 H, al-Burhaan fii ‘uluumi al-Qur’an, Riyadh: Dar al-Hadharah.

Mushtafa, Ibrahim, 1403 ,H al-Mu’jam al-Wasiith, Istambul: al-Maktabah al-Islamiyah.

 

[1] Manna’ al-Qaththan, Mabaahits fii ‘uluumi al-Qur’an, asy-Syarikah al-Muttahidah, Beirut, 1973, hlm. 215

[2] Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Rasaail fii al-Ushuul, Daar al-Bashirah, Iskandariyah, Mesir, hlm. 104.

[3] Ibrahim Mushtafa dkk, al-Mu’jam al-Wasiith, al-Maktabah al-Islamiyah, Istambul, hlm. 471

[4] Dr. Muhammad Ali al-Hasan Pengantar ilmu-ilmu al-Qur’an, Pustaka Thariqul ‘izzah, Bogor 2007, hlm. 165.

[5] Manna’ al-Qaththan, Mabaahits fii ‘uluumi al-Qur’an, asy-Syarikah al-Muttahidah, Beirut, 1973, hlm. 215

[6] Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi, al-Burhaan fi ‘uluumi al-Qur’an, Dar al-Hadharah, 1427 H, Riyadh, jilid 2 hlm. 87-88.

[7] Manna’ al-Qaththan, Mabaahits fii ‘uluumi al-Qur’an, hlm. 216

[8]Ibid., hlm. 217

[9] Dr. Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, Zubdatul Itqaan fii ‘Uluumi al-Qur’an, Daar asy-Syuruuq, Jeddah,   1403, hlm. 75

[10] Syaikh shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, 2006, jilid 2, hlm. 115-116.

[11] Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi,Syarah Shahih Muslim, Daar al-Ma’rifah, Beirut, 1422 H, jilid 16, hlm. 434.

[12]Syaikh shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, 2006, jilid 2, hlm. 115-117.

[13] al-‘Utsaimin, Rasaail fii al-Ushuul, hlm. 105.

[14] al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, hlm. 111.

[15] Dr. Muhammad Ali al-Hasan Pengantar ilmu-ilmu al-Qur’an, Pustaka Thariqul ‘izzah, Bogor 2007, hlm. 168.

[16] al-‘Utsaimin, Rasaail fii al-Ushuul, hlm. 105.

[17]al-‘Utsaimin, Rasaail fii al-Ushuul, hlm. 106.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: