Persoalan takfir (menghukumi kafir) tentunya bukan sebuah perkara yang remeh. Ibarat pisau bermata dua, jika dilakukan tanpa kaedah yang berlaku, akan berbalik kepada diri sendiri. Di sisi lain jika tidak diberlakukan, juga akan merusak tauhid yang ada pada dirinya. Maka, hal ini sudah seharusnya dilakukan sesuai dalil yang masyru’ dan kaidah yang berlaku.

Diantara dalil yang sering dijadikan acuan dalam masalah takfir adalah kaidah dari para ulama ahli tauhid, yaitu: man lam yukaffir al-kafir fahuwa kafir (Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir). Kaidah ini pada dasarnya merujuk kepada ayat atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang larangan menolak atau mengingkari sesuatu yang telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam hal ini, Allah telah menjelaskan secara gamblang tentang kekufuran keyakinan yang dianut oleh orang Yahudi dan Nasrani atau penjelasan tentang jenis tindakan kekufuran lainnya.

“Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir.” (Al-Ankabut : 47)

Oleh karena itu, ketika seseorang tidak menyakini kekafiran terhadap orang-orang yang telah disebut kafir oleh Allah, maka secara tidak langsung dia sedang menolak kebenaran ayat Al-Qur’an. Sudah jelas, bahwa menolak keterangan dari Al-Qur’an tentu hukumnya adalah kafir.

 

Namun naifnya, kaidah ini sering kali dijadikan dalil oleh sebagian aktivis Islam untuk menvonis setiap person yang terindikasi melakukan kekufuran atau kesyirikan tanpa proses yang benar. Tidak hanya itu, bahkan mereka tidak segan-segan menvonis kafir setiap orang yang tidak mengkafirkan pelaku kekufuran atau kesyirikan secara ta’yin. Nah, apakah kesimpulan tersebut sesuai dengan pemahamana ulama? Kalau memang tidak, bagaimana para ulama menjelaskan kaidah tersebut?

Bagi yang sering membuka Kitab Tauhid, kaidah tersebut sudah tidaklah asing bagi mereka. Kaidah “Barangsiapa Yang Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Maka Dia Telah Kafir” ini sangat masyhur dan merupakan pembatal ketiga di antara pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Dalam kitab tauhidnya, beliau berkata :

من لم يكفر المشركين أو يشك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan oran-orang musyrik atau ragu dengan kekufuran mereka atau membenarkan mazhab mereka maka dia kafir.” (Majmu’ah Rasaa’il Fii At Tauiid Wa Al Iman, hal. 385)

Walaupun kaidah ini lebih masyhur dikenal dari Syaikh Muhammad bin Adul Wahhab, namun sebenarnya jauh beberapa abad sebelum beliau, kaidah tersebut telah dimunculkan oleh beberapa ulama salaf terdahulu. Misalnya Sufyan bin Uyainah dalam kitab As-Sunnah karangan Abdullah bin Ahmad, disebutkan bahwa beliau berkata:

القرآن كلام الله عز وجل من قال مخلوق فهو كافر ، ومن شك في كفره فهو كافر

“Al-Qur’an adalah kalamullah ‘azza wa jalla, barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an makhluk maka dia kafir, dan barangsiapa ragu atas kekufuran mereka maka dia juga kafir.” (Abdullah Bin Ahmad, As-sunnah, no. 25)

Ibnu Al-Muqri dalam kitabnya Ar-Raudhoh, beliau menukil perkataan Ibnu Hajar Al-Haitsami, “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan kelompok Ibnu ‘Arabi maka ia sama seperti tidak mengkafirkan orang Yahudi dan Nasrani.” (Ibnu Hajar Al-Haitsami, Al’ilam Biqawati’il islam, hal. 379)

Imam An-Nawawi berkata, “Orang yang tidak mau mengkafirkan para pemeluk agama selain Islam seperti Nasrani atau dia ragu dengan kekufuran mereka atau membenarkan ajaran mereka, maka dia kafir meskipun pada saat itu dia mengaku Islam dan yakin dengan hal itu.” (An-Nawawi, Raudhatu Thalibin, 10/70)

 

Demikian juga perkataan ulama-ulama lain seperti, Abi Zur’ah Ar-Razi dalam kitab Syarh Ushul Itiqod Al-Lalikai, perkataan Salamah bin Syubaib An-Naisaburi dalam kitab Tahzib Ibnu Hajar, perkataan Muhammad bin Sahnun Al-Maliki, perkataan Ibnu Taimiyah dan lain-lain sebagainya.

Kesimpulannya, kaidah tersebut sebenarnya telah ada pada masa para tabi’in masih hidup. Jadi, salah jika ada yang menyatakan bahwa kaidah ini dimunculkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah kemudian dipopulerkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama-ulama Nejd. (Lihat: Al-Maqdisi: Risalah Atsalatsiniyah, hal. 231)

Penjelasan Kaedah “Man lam yukaffir al-kafir fahuwa kafir”

Perlu dipahami, kaidah ini tidak bisa diterapkan secara mutlak begitu saja. Namun harus disertai dengan penjelasan yang lebih rinci. Karena disamping kajiannya yang rumit, kaidah tersebut memiliki rambu-rambu yang harus diperhatikan. Ketika rambu-rambu tersebut diabaikan, maka sangat gampang terjerumus dalam pemahaman Khawarij, yaitu mudah mengkafirkan orang lain.

Kaidah ini juga tidak bisa diberlakukan secara mutlak. Dalam arti lain ketika ada orang yang tidak mengkafirkan orang yang melakukan kekufuran (seperti pelaku syirik, orang yang mengingkari kewajiban shalat atau perbuatan-perbuatan kufur lainnya), tidak langsung serta merta divonis kafir. Karena bisa jadi dia tidak mengkafirkan mereka karena belum terpenuhinya syarat atau ada penghalang-penghalang lainnya, seperti pelaku kekufuran tersebut jahil atau belum mengerti hakikat perbuatan yang dia lakukan. Sehingga sangat keliru jika melihat orang yang tidak mau mengkafirkan pelaku kesyirikan secara ta’yin (person) langsung dianggap kafir.

Contoh praktisnya adalah hukum meninggalkan shalat. Para ulama fikih berbeda pendapat dalam menghukumi orang yang meninggalkan shalat karena malas, apakah dia kafir atau tidak?

Jumhur ulama Hanafiah, Malikiah, dan Syafi’ah tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena enggan atau malas. Sementara menurut Imam Ahmad hukumnya kafir. Maka barangsiapa yang menjadikan kaidah ini “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir” dalam seluruh bentuk kekufuran, sementara di sisi lain dia condong dengan Madzhab Imam Ahmad, maka tentu akan menimbulkan konsekuensi untuk mengkafirkan mazhab jumhur fuqaha yang lain, karena mereka tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat disebabkan malas.

Kemudian efek lebih lanjut adalah, jika dia berpendapat bahwa jumhur ulama Hanafiah, Malikiah dan Syafi’iah telah kafir (disebabkan tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas), maka konsekuensinya adalah dia akan menerapkan kaidah tersebut kepada orang yang tidak mengkafirkan para jumhur ulama tersebut. Artinya, mereka juga akan mengkafirkan orang yang tidak mau mengkafirkan jumhur ulama tersebut. Nah, betul jika pada akhirnya ada yang menyimpulkan bahwa efek dari hal itu, mereka dapat mengkafirkan seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali.

 

Tentunya pemahaman seperti ini sangat keliru dan terlalu ghuluw (ekstrem) dalam menerapkan konsep takfir. Padahal sikap ghuluw sendiri sangat dilarang oleh agama dalam segala hal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mewanti-wanti umatnya agar menghindari diri dari sikap ghuluw. Beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian semua sikap ghuluw, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian celaka lantaran ghuluw dalam urusan dien (agama).” (HR. Ahmad)

Para ulama telah sepakat bahwa ‘illah (sebab) dikafirkannya seseorang dalam kaidah tersebut adalah karena pengingkarannya kepada dalil yang menjalaskan kekafiran seseorang. Jadi pada dasarnya, kaidah ini diberlakukan hanya kepada orang yang tidak mau mengkafirkan mereka yang telah ditetapkan oleh nash—baik Al-Qur’an maupun hadits—sebagai kafir. Misalnya seseorang yang telah disebutkan Allah tentang kekafirannya secara ta’yin (person) dalam Al-Qur’an, seperti Fir’aun, Hamman, Qarun dan Abu Lahab. Ataupun kelompok yang disebutkan Allah tentang kekafirannya, semisal kafirnya Yahudi dan Nasrani, atau selain itu. Secara  global, Allah juga menyebutkan bahwa hakim yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka dia kafir.

Nah, Ketika seseorang menolak untuk mengkafirkan mereka yang disebutkan kafir oleh nash yang qath’i tersebut, maka dia adalah kafir karena menolak atau tidak meyakini hujjah syar’iyah (dalil syar’i) yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits. Perlu ditekankan juga bahwa syarat hujjah (khabar) yang digunakan dalam menvonis kafir seseorang haruslah khabar yang shahih dan disepakati oleh para ulama.

Qadhi Iyadh, salah seorang ulama tabi’in menyebutkan tentang orang yang memberi udzur kepada sebagian orang Nasrani, beliau berkata, “Semua yang berkata demikian adalah kafir karena para ulama telah bersepakat tentang kafirnya orang yang tidak mengkafirkan Nasrani dan Yahudi atau bahkan tawaqquf dan ragu atas kekafiran mereka.” (Qadhi ‘Iyadh, Asyifa’ Bita’rif Huquqi Al-Mustofa, hal. 846)

Dalam Syarh Matan Al-Iqna’, Imam Al-Bahuti menjelaskan tentang sebab dikafirkannya seseorang menurut kaidah tersebut. Beliau mengatakan, “Orang yang tidak mengkafirkan mereka yang menganut agama selain Islam seperti Nasrani dan Yahudi atau dia ragu atas kekufuran mereka atau membenarkan ajaran mereka, maka dia kafir disebabkan mendustai firman Allah, ‘Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.’”(Lihat: Kasyfu Al-Qana ‘An Matan Al-Iqna’, 6/171)

Para ulama menggunakan kaidah ini sebagai bentuk ketegasan mereka terhadap perbuatan kufur. Dengan adanya kaidah tersebut, kaum muslimin diharapkan bisa terhindar dari perbuatan kufur dan segala macam fitnah yang bisa menyesatkan mereka. Syaikh Al-Maqdisi berkata, “Setelah saya mengkaji dan meneliti perkataan ulama tentang kaidah ini, maka jelaslah bahwa mereka menggunakan kaidah ini sebagai tindakan tegas untuk melawan segala bentuk kekufuran yang merajalela tersebar pada zaman mereka. Kaidah ini dimunculkan untuk mewanti-wanti kaum muslimin dari fitnah tersebut dan agar mereka menghindari diri dari kekufuran berserta pelakunya.” (Lihat: Abu ‘Ashim Muhammad Al-Maqdisi: Risalah Atsalatsiniyah, hal. 231)

 

Jadi menurut Al-Maqdisi, makna kaidah ini yang benar adalah, “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, di mana kekafiran mereka telah dijelaskan secara qath’i dalam ayat Al-Qur’an dan hadits, dan syarat ketentuannya telah terpenuhi serta seluruh penghalang takfir pada diri pelaku tersebut hilang, kemudian seseorang tidak mengkafirkan orang yang disebutkan dalam nash tersebut, maka menurut ijmak ulama dia kafir karena mendustakan nash qath’i. (lihat: Abu ‘Ashim Muhammad Al-Maqdisi: Risalah Atsalatsiniyah, hal. 232)

Penerapan Kaedah “Man lam yukaffir al-kafir fahuwa kafir” Berdasarkan Rincian

Supaya lebih mudah dalam memahami kaidah tersebut, perlu adanya klarifikasi tentang jenis orang kafir itu sendiri. Sebab dengan seperti itu, akan lebih mudah memetakan siapa yang layak masuk dalam kaidah ini dan siapa yang tidak. Berikut ini pembagian orang kafir beserta penjelasan dan penerapan kaidah tersebut.

1. Kafir Asli

Maksud kafir asli adalah seperti Yahudi, Nasrani, Majusi dan sebagainya. Dalam hal ini barangsiapa yang tidak mengkafirkan mereka atau ragu akan kekafiran mereka atau menganggap pemahaman mereka itu benar, maka ia telah kafir berdasarkan ijmak (kesepakatan ulama’). Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh banyak ulama. Kekafiran tersebut dikarenakan ia menolak nash-nash yang menerangkan bathilnya aqidah selain Islam dan kafir nya dien selain Islam.

2. Kafir karena Murtad (Keluar dari Islam)

Dalam hal ini orang murtad sendiri dibagi menjadi dua kategori :

Pertama, Siapa saja yang menyatakan secara terang-terangan bahwa dia telah berganti agama dari Islam kepada agama selainnya seperti Yahudi, Nasrani atau Atheis, maka hukum orang ini seperti hukum kafir asli. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Barangsiapa yang mengingkari tentang kekafiran orang Yahudi dan Nasrani di mana mereka tidak beriman kepada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustainya, maka dia telah berdusta kepada Allah. Hukum mendustai Allah adalah kafir, dan barangsiapa yang ragu dengan kekafiran mereka maka dia juga kafir. (Ibnu al-Utsaimin, Fatawa Wa Ahkamuhu Al-Dakhilin Fi Al-Islam, hal. 42)

Kedua, Siapa saja yang melakukan tindakan yang termasuk pembatal keislaman, akan tetapi ia menyangka bahwa perbuatan itu bukanlah pembatal keislaman dan ia masih merasa sebagai seorang muslim. Maka dalam hal ini terbagi dalam dua kategori:

a. Barangsiapa yang melakukan perbuatan pembatal keislaman yang sharih (jelas dan nyata) seperti menghujat dan menghina Allah ta’ala, maka orang ini telah kafir menurut ijmak, dan barangsiapa yang tawaqquf atas kekafirannya, maka ia termasuk salah satu dari dua kelompok berikut:

  • Barangsiapa yang mengakui dan meyakini bahwa menghujat Allah adalah kekafiran dan perbuatan itu menjatuhkan pelakunya pada kekafiran, tetapi dia bertawaqquf dari menvonis kafir secara mu’ayyan (individu atau person) disebabkan ketidaktahuan atau karena syubhat (keraguan) yang dia lihat, maka orang yang bertawaqquf ini telah melakukan kesalahan dan ucapannya tergolong bathil. Akan tetapi, ia tidak dikafirkan karena ia tidak menolak khabar tersebut (bahwa menghujat dan menghina Allah adalah kekufuran) atau mendustakannya, bahkan dia meyakini dan menerima khabar (hadits dan ayat Al-Qur’an) dan ijmak bahwa menghina Allah adalah kekufuran.
  • Barangsiapa yang pada dasarnya memang mengingkari dan menolak bahwa menghina Allah hukumnya kafir, maka ia telah kafir setelah adanya penjelasan (hujjah-hujjah syar’iyyah). Orang tersebut dikafirkan karena ia menolak khabar dan ijmak. Hal ini sebagaimana orang yang mengaku muslim tetapi menyembah kuburan dan  menolak untuk menyatakan bahwa perbuatan itu adalah kekufuran, maka orang ini telah kafir dikarenakan ia menolak nash-nash dan ijmak. Sedangkan orang yang mengakui bahwa perbuatan tersebut termasuk kekufuran,  tetapi ia tawaqquf dari mengkafirkan pelakunya secara mu’ayyan karena ia melihat masih adanya syubhat, maka orang ini tidak boleh dikafirkan.

 

b. Barangsiapa yang melakukan pembatal keislaman yang masih diperselisihkan hukumnya, seperti meninggalkan shalat fardhu tanpa udzur syar’i umpamanya. Maka penetapan kekafirannya adalah masalah khilafiyyah (masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama). Orang yang berbeda pendapat dalam hal ini tidak boleh dikafirkan, tidak boleh juga disebut ahli bid’ah atau orang fasik walaupun dalam hal ini ia telah melakukan kesalahan.

Demikianlah penjelasan dan penerapan kaidah man lam yukaffir al-kafir fahuwa kafir. Kesimpulannya adalah kaidah ini bisa diterapkan ketika orang kafir yang dimaksud sudah jelas kekafirannya berdasarkan nash syar’i yang qath’i, bukan sesuatu yang masih mukhtalaf atau  masih diperselisihkan. Selain itu, ketika kaidah ini diterapkan dalam hal takfir ta’yin (mengkafirkan person), maka dia harus melalui proses syar’i yaitu memahami kondisi atau keadaan obyek yang ingin dihukumi (melihat syarat dan penghalang-pengahalang takfir),  melakukan kajian tahqiqul manath (mengaitkan seluruh kondisi obyek dengan dasar teori hukum syar’i) dan bentuk kekufuran yang dilakukannya adalah sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama.

Semoga dengan memahami dan memperhatikan rambu-rambu yang ada dalam kaidah tersebut, kita akan semakin bisa mendudukkan sesuatu dengan ilmu dan tidak mudah terjerumus dalam sikap ghuluw dalam memahami konsep takfir. Wallahu a’lam bishawab

Penulis: Fahrudin

Referensi: 

Ibnu Hajar Al-Haitsami, Al’ilam Biqawati’il islam

Muhammad bin Abdul Wahab, Majmu’ah Rasaa’il Fii At Tauiid Wa Al Iman

Abdullah Bin Ahmad, As-sunnah

An-Nawawi, Raudhatu Thalibin

Qodhi ‘iyadh, Asyifa’ Bita’rif Huquqi Al-Mustofa

Manshur bin yunus Al-Bahuti, Kasyfu Al-Qona ‘An Matan Al-Iqna’

Abu ‘Ashim Muhammad Al-Maqdisi: Risalah Atsalatsiniyah

Ibnu al-Utsaimin, Fatawa Wa Ahkamuhu Al-Dakhilin Fi Al-Islam

Maktabah syamilah, versi maktab da’wah ar-raudhoh

http://alsayedahmad.blogspot.com/2014/07/1.html?m=1

http://www.tawhed.ws/dl?i=e7hqd4ju

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

 

%d blogger menyukai ini: