Klik link http://fajribandung.com/apakah-kita-harus-bermazhab/

Klik link http://fajribandung.com/pendapat-imam-mazhab-tentang-taqlid/

Klik link http://fajribandung.com/sumber-agama-islam-adalah-al-quran-dan-hadits/

 

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…  

Dalam beberapa ayat-Nya, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan manusia agar menaati Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam dengan perintah yang variatif.

Ada ayat yang menyatakan sesungguhnya ketaatan kepada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam sebagai wujud ketaatan seorang hamba kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya dalam al-Qur’an Surat an-Nisa ayat ke delapan puluh, a’udzu billahi masyaithonir rojiim,

 

“Barangsiapa yang menaati Rosul, sesungguhnya ia telah menaati Alloh.”

Ada pula ayat berupa perintah agar menaati Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam secara mandiri dalam hal perintah dan larangan. Hal ini sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat yang ketujuh, a’udzu billahi masyaithonir rojiim,

 

“Apa saja yang diberikan Rosul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.”

Maka setiap yang datang dari Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam adalah hak dan benar, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya.

Bahkan, termasuk prinsip keimanan adalah mengimani kemaksuman Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam dari dusta dan membenarkan segala yang dikabarkannya berupa perkara yang telah lalu, sekarang, maupun akan datang.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala befirman di dalam al-Qur’an Surat an-Najm ayat ketiga dan empat, a’udzu billahi masyaithonir rojiim:

 

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”

 

Sunnah Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam berfungsi sebagai penerang dan penjelas dari apa yang ada dalam kitabulloh. Tanpa Sunnah Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam, maka orang-orang yang beriman tak akan mengetahui tata cara sholat, puasa, zakat, umroh, haji, dan lain-lain.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat ke enam belas, a’udzu billahi masyaithonir rojiim:

 

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

Sesungguhnya Sunnah yang shohih adalah sumber referensi dan petunjuk kebenaran. Apabila umat Islam berpegang teguh kepadanya, niscaya akan selamat dan tak akan tersesat selama-lamanya.

Diriwayatkan oleh Imam Hakim bahwa Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda:

 

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Aku telah meninggalkan kepada kalian dua hal yang kalian tidak akan tersesat sesudahnya: Kitabulloh dan Sunnahku, keduanya tidak terpisahkan hingga keduanya datang di telagaku.”

 

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa menjaga Sunnah Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam kendatipun telah disusupi oleh hadits-hadits dhoif atau lemah dan maudhu’ atau palsu. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menyiapkan para imam yang telah mewakafkan diri dan umurnya untuk berkhidmat kepada Sunnah dan memisahkan antara hadits yang shohih dan maudhu’. Mereka adalah para ahli hadits yang berusaha secara optimal dan maksimal dalam menjaga kemurnian sunnah. Buah karya dalam bidang hadits dari torehan tinta emas mereka sungguh sangat berarti bagi umat hingga mereka mengetahui mana hadits yang shohih dan dhoif.

Karena itu, orang yang berkeinginan untuk mengikuti Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam secara benar harus memperhatikan keshohihan hadits yang diamalkannya, memahami dan merenungkannya, kemudian mengamalkan tuntunannya, baik mengerjakan apa yang diperintahkan maupun meninggalkan apa yang dilarang.

 

Dalam rangka menjaga dan memelihara keshohihan hadits Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam, para ulama telah memberikan peringatan keras tentang penggunaan hadits dhoif.

Dalam kitab shohihnya, Imam Muslim meriwayatkan hadits bahwa Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda;

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang sebagai pendusta, jika ia menyampaikan hadits dari setiap yang ia dengar.”

Imam Ahmad meriwayatkan hadits bahwa Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda:

مَنْ قَالَ عَلَىَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku katakan, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.”

Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam pun telah memperingatkan kepada umat Islam dari hadits-hadits maudhu’, dengan sabdanya,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (Hadits Riwayat. Bukhori dan Muslim)

 

Alangkah menyedihkan dan memilukan akan realita dan fakta tersebarnya hadits dhoif dan maudhu’ di masyarakat kita pada masa kini. Hadits dhoif dan maudhu’ tersebar luas di kalangan kaum muslimin bak jamur di musim hujan.

Mereka tidak mengetahui dan memahami derajat hadits yang diperoleh. Apakah derajat hadits tersebut shohih atau dhoif. Apakah derajat hadits itu shohih atau maudhu’. Oleh karena itu, mereka pun terjebak ke dalam peribadatan atau keyakinan yang tidak bersumber dari Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam.

Berikut ini, kita paparkan beberapa contoh hadits maudhu’ atau palsu yang sering dijadikan dalil oleh sebagian kalangan:

Hadits maudhu’ yang pertama:

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ نُوْرَ نَبِيِّكَ يَا جَابِرُ

“Wahai Jabir, yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah cahaya Nabimu.”

Hadits palsu ini begitu masyhur di sebagian kalangan kaum Muslimin, bahkan sebagian mereka mempercayai dan meyakininya. Ini merupakan musibah dan bencana besar!

Berdasarkan hadits ini, mereka percaya bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah cahaya Nabi Muhammad dan dari sanalah segala makhluk yang ada di langit dan dipermukaan bumi tercipta!

Akidah ini tentu batil dan sangat menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Hadits maudhu’ yang kedua,

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Robb-nya.”

Di antara akidah sufi yang begitu kental di kalangan umat Islam adalah hakikat mengenal Robb alam semesta diperoleh melalui pengenalan diri. Keyakinan ini jelas menyimpang dari akidah yang benar.

Akidah ini muncul disebabkan kesalahan fatal dalam pokok dasar beragama sufi tentang wihdatul wujud, yaitu bersatunya hamba dengan Robb alam semesta. Menurut mereka Robb adalah hamba dan hamba adalah Robb. Dengan demikian siapa yang mengenal dirinya berarti mengetahui Robbnya.

Akidah ini amat sesat sebab telah menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Hadits maudhu’ yang ketiga:

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ

“Carilah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina.”

Di panggung dakwah atau di majelis taklim sering kali kita mendengar seorang juru dakwah menyampaikan hadits ini. Tujuan mereka sangat bagus, yaitu memberikan motivasi dan semangat kepada objek dakwah tentang menuntut ilmu. Akan tetapi, hadits ini maudhu’ alias palsu yang tidak dapat dijadikan sandaran dalam beragama.

Hadits maudhu’ yang keempat:

تَوَسَّلُوْا بِجَاهِي، فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

“Bertawasullah dengan kedudukanku, sesungguhnya kedudukannku agung di sisi Alloh.”

Hadits ini dijadikan sandaran sebagian kaum Muslimin untuk mengokohkan pendapat mereka tentang dibolehkannya bertawassul kepada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam, meskipun beliau telah wafat.

Pernyataan mereka tentunya sangat keliru, sebab kedudukan hadits tersebut maudhu’. Para Sahabat pun tidak pernah bertawassul kepada beliau Sholallohu ‘alaihi Wassalam sepeninggalnya. Mereka bertawasul kepada paman beliau Sholallohu ‘alaihi Wassalam, Abbas rodiyallohu ‘anhu yang ketika itu masih hidup.

Hadits maudhu’ yang kelima:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس، وَمَنْ قَرَأَ يس، كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشَرَ مَرَاتٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati atau induk, induk atau inti al-Qur’an adalah Surat Yasin. Barangsiapa yang membaca Surat Yasin, maka Alloh mencatat pahala baginya laksana membaca al-Qur’an sepuluh kali.”

Surat Yasin di kalangan sebagian kaum Muslimin masyarakat Indonesia dijadikan sebagai ritual peribadatan dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia. Seperti pindah rumah, keberhasilan seseorang dalam studi dan pekerjaan, kelahiran buah hati tercinta, acara peringatan kematian, dan lain-lain

 

Mereka berbuat demikian, bukan tanpa sumber dan pedoman yang dijadikan sebagai dasar amal mereka. Rujukan dalam menyelenggarakan dan mengadakan ritual peribadatan Surat Yasin adalah hadits-hadits Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam. Akan tetapi, kedudukan semua hadits tentang keutamaan Surat Yasin menurut para ulama pakar hadits adalah dho’if atau maudhu’, termasuk hadits tadi.

Dengan demikian, mereka telah melakukan berbagai amal perbuatan dan keyakinan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam dan para sahabatnya.

 

Marilah kita senatiasa berpegang teguh kepada hadits shohih dan meninggalkan hadits dhoif dan maudhu’. Semoga dengan hal itu kita menjadi golongan orang-orang yang beruntung. Amiin.

Wassalamu‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Ust. Arifin

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: