Assalaamu’alaikum Wr Wb sy mau tanya, bagaimanakah hukum isbal ? dari 08382422****

wa’alaikumussalam Wr Wb

pada dasarnya para ulama sepakat bahwa hukum isbal (celana dibawah mata kaki) yang disertai sombong hukumnya haram, namun bila tidak disertai sombong maka ada tiga pendapat :

  1. Haram
    2. Makruh
    3. Mubah

berikut penjelasannya

Definisi Isbal
Secara istilah yang dimaksud dengan Isbal pada pembahasan ini adalah menurunkan atau memanjangkan kain (pakaian) melebihi (di bawah) mata kaki.

Batasan Terendah Pada Kain
Berikut kami nukilkan beberapa hadits yang berbicara dan menjelaskan batasan terendah pada kain (pakaian).

Hadits Pertama
Artinya:
Dari Ibnu Umar, dia berkata , “Aku mengunjungi Rasulullah Saw. sedang aku memakai kain yang bergemerincing (karena masih baru), lalu beliau bertanya, “siapa itu?,” “Aku, Abdullah Ibnu Umar,” Beliau berkata, “Kalau memang engkau seorang Abdullah (hamba Allah), maka angkatlah kainmu!,” Kemudian aku angkat. Beliau berkata, “Angkat lagi!,” Maka akupun mengangkatnya sampai setengah betis” (HR: Ahmad 2/141,147, Thabrani dalam Al Kabir 12/356, derajat hadits ini shahih)

Hadits Kedua
Artinya:
“Dari Ibnu Umar berkata : Aku lewat di depan Nabi, sedang kainku melorot (karena longgar), beliau berkata: Wahai Abdullah angkatlah kainmu !, akupun mengangkatnya. Angkat lagi ! (kata beliau). Aku pun mengangkatnya lagi dan masih saja aku berusaha untuk tetap seperti itu sampai sebagian orang berkata: Sampai seberapa ?, sampai setengah betis (jawabku)” (HR. Muslim (2086), Abu ‘Awanah 5/482, Al Baihaqi dalam As Sunan 2/243)

Hadits Ketiga
Artinya:
Dari Al ‘Ala’ bin Abdirrahman dari bapaknya berkata, “Aku bertanya kepada Abu Said Al Khudriy tentang kain (izaar),” Beliau berkata: ‘Kain penutup seorang muslim sampai setengah betis. Dan tidak mengapa apabila di antara keduanya (pertengahan betis dan mata kaki). Apa yang ada di bawah mata kaki maka (tempatnya) di neraka (beliau mengatakannya tiga kali), dan barang siapa yang memanjangkan kainnya dengan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya’ ”. (Abu Daud (4093), Ibnu Majah (3574), Ahmad 3/5,6,31,44,52,97, Malik dalam Al Muwaththa’ hal. 914-915, Al Humaidy (737), Ibnu Abi Syaibah 8/203, Abu ‘Awanah 5/483, Ibnu Hibban (1445- Mawarid), Al Baihaqi dalam As Sunan 2/244, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 12/12 dan derajatnya shahih)

Hadits Keempat
Artinya:
Dari Hudzaifah berkata, “Rasulullah Saw. memegang otot betisku atau betisnya (begini kata Abu Ishaq, seraya mencontohkan), lalu beliau berkata: Ini tempat (batas) kain, apabila engkau keberatan, maka seperti ini (beliau menurunkan satu genggam), apabila masih keberatan, maka seperti ini (menurunkan lagi satu genggam), apabila engkau menolak maka tidak ada lagi hak bagi kain di bawah mata kaki”. (HR. Tirmidzi (1783), An Nasa’i 8/206, Ibnu Majah (3572), Ahmad 5/382,396,398, 400, Ath Thayalisy (425), Al Humaidy (445), Ibnu Abi Syaibah 8/202, Ibnu Hibban (1447 – Mawarid) Al Baghawi 12/10, berkata Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Al Fath 10/256: Dishahihkan oleh Al Hakim dan derajatnya hasan)

Hadits Kelima:
Artinya:
“Dari Anas, dari Nabi Muhammad Saw. berkata: (batas tempat) kain itu sampai setengah betis. Setelah beliau melihat hal ini dirasa berat oleh kaum muslimin, beliau bersabda: Sampai kedua mata kaki, lebih dari itu tidak ada kebaikan padanya”. (HR. Ahmad 3/140, 249, 256, dan derajatnya shahih, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8/205 secara mauquf)

Hadits Keenam:
Artinya:
“Dari Abi Hurairah berkata : Rasulullah Saw. bersabda: Kain seorang mu’min ialah sampai otot betisnya, (apabila keberatan) maka sampai pertengahan betis (apabila masih keberatan), maka sampai mata kaki, apa yang di bawah mata kaki, maka (tempatnya) di neraka”. (Ahmad 2/255, 287, 504, Abu Awanah 5/484 dan derajatnya shahih)

Hadits-hadits ini semua jelas dan tegas menerangkan kepada kita tentang aturan berbusana bagi seorang muslim, di mana tidak diperbolehkan memanjangkan kain melebihi mata kaki, dan sunnah hukumnya (memotong kain tersebut) sampai setengah betis.
Dan dari hadits-hadits tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa yang demikian ada tiga ukuran yang disukai :

  1. Menurunkan kain sampai pertengahan betis.
    2. Menurunkan kain sampai di atas pertengahan betis.
    3. Menurunkan pakaian sampai di bawah pertengahan betis.

Peringatan dan Ancaman
Apabila kita telah tahu aturan yang sebenarnya—tentang tidak diperbolehkannya memanjangkan kain di bawah mata kaki—kapan saja orang itu menolak hadits-hadits yang telah tetap dari Rasulullah dan menjadikannya terbuang (diremehkan), maka sungguh akibatnya tidak baik, sebagaimana banyak hadits telah menjelaskan tentang hal ini, diantaranya :

Hadits Pertama:
Artinya:
“Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah Saw. bersabda: Apa yang di bawah mata kaki dari kain penutup (izaar), maka (tempatnya) di neraka”. (HR. Bukhari 10/256, Ahmad 2/410, 461, 498, Abdur Rozzaq 11/38, Abu Na’im fi Al Hulyah 7/192, Al Baihaqi 2/244, Al Baghawi 12/12, Ahmad 5/9, Ibnu Abi Syaibah 8/204, 203 dari hadits Aisyah, Ath Thabrani dalam Al Kabir dari hadits Samuroh bin Jundub dengan lafadz “Ma tahta al Ka’baini” juga disebutkan oleh Imam Ahmad 5/15).

Berkata Al Khaththabi: “Perkataan beliau ‘maka (tempatnya) di neraka’, bisa berarti dua makna, yang pertama: bagian kaki yang di bawah mata kaki berada di neraka sebagai hukuman atas perbuatannya; Yang kedua: sesungguhnya perbuatannya itulah yang menyebabkan ia masuk neraka, atau bisa dikatakan : perbuatan seperti ini termasuk perbuatan penduduk neraka”.

Hadits Kedua:
Artinya:
“Dari Asy Syarid berkata: Nabi Saw. mengikuti seorang laki-laki dari Tsaqif sampai beliau mempercepat dalam mengikutinya, lalu Nabi memegang kain orang tersebut dan berkata: Angkatlah kainmu !, seketika tampaklah kedua lututnya, lalu ia berkata : Ya Rasulullah, sungguh aku ini seorang yang cacat (bengkok pada telapak kaki) sehingga kedua lututku bersenggolan (ketika berjalan). Rasulullah bersabda: “setiap apa yang Allah ciptakan adalah baik”. Diceritakan : “tidak terlihat dari orang tersebut kecuali kainnya berada di tengah betis sampai ia meninggal dunia”. (HR. Ahmad 4/390, Al Humaidi (810), Ath Thahawi dalam Masykalil Atsar 2/287, Ath Thabrani dalam Al Kabir 7/377, 378, dan derajatnya shahih)

Sungguh seseorang yang cacat kaki lalu memakai kain panjang agar tertutup kecacatannya, karena ia mengira bahwa membukanya berarti aib, tapi Rasulullah justru menyuruhnya : “angkatlah kainmu !”, kemudian orang tersebut berdalih bahwa yang membuatnya berbuat seperti itu adalah cacat pada kakinya, Rasulullah pun menjawabnya dengan sabdanya : “setiap apa yang Allah ciptakan adalah baik”, beliau pun memberitahukan bahwa dalih seperti itu belum cukup membuat seseorang menutupi mata kakinya, lalu bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai dalih?

Hadits Ketiga :
Artinya:
“Dari ‘Amr bin Fulan Al Anshori berkata: Ketika ia berjalan dan kainnya melebihi mata kaki, bertemulah ia dengan Rasulullah Saw., lalu beliau menaruh tangannya pada keningnya dan berkata: “Ya Allah ini hamba-Mu dan anak hamba-Mu dan anak orang yang beriman pada-Mu”, ‘Amr berkata: Ya Rasulullah sungguh aku ini adalah seorang yang cacat kaki (betis yang tidak normal/kecil). Beliau bersabda: “Wahai ‘Amr sesungguhnya Allah telah menjadikan baik apa yang diciptakan-Nya”. Lalu Rasulullah mencontohkan dengan menaruh empat jari tangan kanannya pada lutut ‘Amr, dan beliau berkata : “wahai ‘Amr inilah tempat (batas) kain”, kemudian beliau menaruh di bawahnya (dengan ukuran yang sama), dan berkata lagi : “wahai ‘Amr inilah tempat (batas) kain”. (HR.Ahmad 4/200, berkata Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 7/155 : Sanadnya hasan, diriwayatkan pula oleh Ath Thabrani dalam Al Kabir 8/277 dari hadits Umamah, Al Haitsmi dalam Majma’ 5/124, dan diriwayatkan oleh Ath Thabrani dengan banyak sanad dan rijal yang salah satunya terpercaya)

Hadits-hadits yang telah tersebut di atas, menerangkan tentang sebab seseorang mandapatkan ancaman yang sangat keras (seperti ancaman akan neraka atau yang selainnya), dan sebabnya ialah memanjangkan kain melebihi mata kaki. Setelah melihat dalil-dalil yang cukup jelas seperti ini, tidak akan bisa seseorang mengatakan bahwa ancaman dalam hadits tersebut ditujukan khusus kepada orang yang sombong ketika ia memanjangkan kainnya, karena hadits-hadits diatas cukup jelas menerangkan tentang hukuman yang wajib diketahui dan tegak di atasnya. Maka kapan saja seseorang melanggar aturan tersebut dan memanjangkan kain (di bawah mata kaki), maka ia masuk dalam kategori ancaman yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Hadits di atas sebagaimana pula hadits-hadits sebelumnya tidak mungkin dikaitkan dengan kesombongan, itu disebabkan karena setiap orang ingin menutupi kekurangannya secara fisik (menurut prasangkanya), artinya ketika seseorang memanjangkan kain mungkin ia tidak berniat sama sekali untuk bersombong diri, dalam keadaan seperti ini saja Rasulullah tidak mengizinkan (untuk memanjangkan kain) apalagi disertai niatan sombong.

Hukum Isbal
Ada banyak hadits yang melarang dan mencela tentang isbal (memanjangkan kain melebihi mata kaki), diantaranya :

Hadits Pertama:
Artinya:
“Dari Abu Dzar berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Ada tiga golongan, yang Allah tidak akan mengajak bicara mereka pada hari kiamat kelak, enggan melihat mereka, enggan mensucikan mereka dan mereka akan mendapat adzab yang sangat pedih (Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali), Abu Dzar berkata: Sungguh mereka sangatlah merugi dan tidak beruntung, siapa mereka wahai Rasulullah?, Rasulullah bersabda: Mereka adalah “al-Musbil” (orang yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki), pengungkit akan pemberian atau kebaikan, penjual barang yang disertai sumpah palsu”. (HR. Muslim (106), Abu Daud (4087), At Tirmidzi 3/516, An Nasa’i 5/81, 7/245, 8/208, Ibnu Majah (2208), Ahmad 5/148,158,162, 168, 178, Ath Thayalisi (468), Ibnu Abi Syaibah 8/201, Ad Darimi(2608) dan Tirmidzi mengatakan: hadits hasan shahih)

Hadits Kedua:
Artinya:
“Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan melihat kepada orang yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki)” (HR. An Nasa’i 8/207, Ahmad 1/322, Ibnu Abi Syaibah 8/200, Ibnu Al Ja’di (2340) Ath Thabrani dalam Al Kabir 12/41, Abu Na’im dalam Al Hulyah 7/192 dan derajatnya shahih)

Hadits Ketiga:
Artinya:
“Dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Barangsiapa yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki) di dalam sholat dengan sombong, maka Allah tidak menghalalkan baginya (syurga) dan tidak pula mengharamkan baginya (neraka)”. (Abu Daud (637), Hunad dalam Az Zuhdi (846), Ath Thabrani dalam Al Kabir 9/315 dan derajatnya shahih)

Setelah melihat dalil di atas, seharusnya kita meneliti serta mengoreksi maknanya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dan ikhlas dalam menerapkan syariat Allah dan mempraktekkan perintah Nabi-Nya saw., kenapa kita menoleh ke kiri dan ke kanan, mena’wilkan begini dan membolak balikkan maknanya hanya untuk mencari dalih pembenaran (justifikasi), padahal sebenarnya dalih yang sangat hina itu tidak mempan menolak dalil yang telah tetap (dari Rasulullah). Semua itu dalam rangka mengikuti dan mentaati hawa nafsu yang banyak menyuruh kepada kejelekan, dan agar senantiasa mendapat dalih dalam memanjangkan kain, dan apabila kita ingatkan dengan hadits-hadits Nabi, ia akan menjawab : “Ancaman pada hadits-hadits itu hanya untuk orang yang memanjangkannya dengan kesombongan, dan aku tidak ada niatan sombong, untuk itu boleh saja aku memanjangkannya sekehendakku” , begitulah kebanyakan jawaban manusia, apakah dengan jawaban yang lemah tersebut dapat menghalangi dalil yang telah tetap lagi kuat ?.

Walaupun sepertinya dari dhahir hadits menunjukkan akan pensyaratan sombong (ketika memakainya), tetapi Ibnu Umar tidak memandang seperti itu. Yang beliau fahami ialah siapa saja yang memanjangkan kainnya melebihi batasan yang telah ditentukan oleh Rasulullah saw., maka ia termasuk dalam kategori ancaman (sebagaimana tersebut dalam hadits). Untuk itu ketika beliau melihat anaknya memanjangkan kain (melebihi mata kaki) beliau tahu bahwa anaknya bukanlah termasuk orang-orang sombong. Beliau pun tidak bertanya kepada anaknya tentang niat, apakah diniatkan sombong atau yang lainnya, akan tetapi hanya sekedar beliau melihat anaknya telah memakai kain melebihi batas yang telah ditentukan, beliaupun menegurnya.

Hadits Keempat :
Artinya:
“Dari Umar bin Maimun dalam menyebutkan kisah terbunuhnya Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘anhu: “….. ketika anak itu berbalik (pulang dari mengunjungi Umar) kainnya menyentuh tanah, maka Umar berkata: Panggil kembali anak itu !, Umar berkata: Wahai anak saudaraku angkatlah kainmu (pakaianmu) karena yang demikian lebih mensucikan pakaianmu dan lebih menjadikanmu bertaqwa kepada Robb-Mu”. (HR. Bukhari 7/60, Ibnu Abi Syaibah 8/201, 2202, riwayat ini mempunyai syahid (penguat) dengan derajat marfu’ dari hadits ‘Ubaid bin Kholid diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Asy Syamail (97 – Mukhtashar Al Albani), An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra sebagaimana disebutkan dalam Tuhfatil Asyraf 7/223, Ahmad 5/364, Ath Thayalis (1190), Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 12/11, berkata Al Hafidz dalam Al Fathi 10/263: Dan derajat riwayat sebelumnya jayyid, namanya adalah Rohmun, dishahihkan oleh Al Albani dalam mukhtashar Asy Syamai)

Seorang Umar bin Khaththab walaupun beliau dalam keadaan sakit menjelang kematian, tetapi ketika melihat anak kecil yang kainnya terjulur panjang, beliau tidak tinggal diam bahkan beliau menyuruh agar memanggilnya kembali sehingga dapat menyuruhnya untuk memotong kain yang dikenakan.
Dan Abdullah Ibnu Mas’ud meriwayatkan hadits yang menyebutkan “kesombongan”, tetapi beliau justru memahami hadits tersebut sesuai dengan dhahir kalimat, sebagaimana pula difahami oleh seluruh sahabat Radhiallahu ‘anhum.

Lanjut ke link http://fajribandung.com/hukum-isbal-2/

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: