Link sebelumnya http://fajribandung.com/hukum-isbal-2/

  1. Sabda Rasulullah Saw. kepada Abu Bakar: “Engkau bukanlah dari mereka (yang berbuat sombong). Artinya engkau wahai Abu Bakar (memakai taa’ul khitob), jika engkau berbuat demikian dengan selalu menjaga kainmu dari isbal niscaya akan mengeluarkanmu dari golongan (orang-orang sombong), sedang mereka itu sebenarnya telah berbuat sombong, karena mereka tidak mengangkat kain mereka. Bagaimana mereka akan mengangkat sedang mereka menyengaja untuk itu, kalaupun seandainya diangkat lalu tampaklah mata kaki mereka niscaya mereka akan malu dari manusia !.

Syubhat kedua:
Syubhat yang selalu mereka gembar-gemborkan dalam menanggapi hadits Nabi: “Dan jauhkanlah dirimu dari berbuat isbal, karena isbal itu termasuk dari kesombongan”. Mereka mengatakan: Kata “min: dari” menunjukkan tab’idh (sebagian), untuk itu ada isbal karena sombong dan juga ada isbal yang tidak karena sombong.
Jawaban:

Ini adalah pemahaman yang keliru terhadap hadits. Walau min memang untuk tab’idh (menunjukkan makna sebagian), tetapi maknanya bukan seperti yang mereka pahami. Itu justru menunjukkan bahwa lafadz (al makhilah : sombong) bersifat umum masuk di dalamnya isbal kain dan yang selainnya dan ini menjadi jelas tanpa diragukan bahwa isbal adalah kesombongan, dan pengulangan konteks hadits di atas ditujukan kepada orang yang sombong, karena sombong itu lebih besar perkaranya dari pada isbal dan hukumannya lebih berat seperti sabdanya: “Allah tidak akan melihatnya” , dan “berteriak di dalam bumi sampai hari kiamat”, dan yang selainnya, Nabi pun mengkabarkan bahwa kesombongan adalah haram begitu pula hal-hal yang dapat menyampaikan ke arah sombong, dan contoh yang paling jelas ialah isbal pada kain, sesungguhnya Nabi Saw.

mengancam dari isbal dengan sabdanya: “Dan jauhkanlah dirimu dari isbal”.

Sebenarnya dengan hadits ini dan hadits-hadits yang lain sudah cukup untuk membatalkan dalih mereka, karena orang yang meyakini dengan syubhat ini ia hanya mengambil sebagian hadits lalu memahaminya dengan salah, dan mereka pun meninggalkan sebagian hadits yang lain, tidakkah Rasulullah menyuruh ia dengan sabdanya: “Angkatlah kainmu sampai setengah betis”!, sedangkan qorinah yang membatasinya hanya sampai pada mata kaki, adakah qorinah yang menyatakan untuk melebihkan dari mata kaki?, tidakkah beliau memberi dua pilihan antara setengah betis dan di atas mata kaki dan mengancam yang melebihi darinya?

Kalau seandainya yang difahami dari hadits tersebut memang seperti apa yang mereka yakini yaitu boleh memanjangkan kain apabila tidak sombong, maka apa tujuan Nabi menyebutkan setengah betis dan sebatas mata kaki?, kenapa manusia tidak berfikir sebentar dan berkata dalam hatinya “kalau memang diperbolehkan isbal bagi orang yang tidak sombong itu adalah dasar dalam berpakaian, mengapa Rasulullah saw. sampai menjelaskan dan berwasiat dengan segala wasiatnya dan mengancam dengan segala ancamannya, sampai-sampai beliau berlari mengejar seseorang dari Tsaqif ketika beliau melihatnya menjulurkan kainnya melebihi mata kaki?”. Kemudian pada saat yang lain Nabi pun tidak menyebut kesombongan sebagai sebuah alasan dilarangnya isbal, padahal laki-laki tersebut sedang menutupi aib pada kakinya (seperti apa yang ia harapkan), tidakkah telah berlalu sabda Nabi Saw.: “kainnya seorang muslim itu sebatas setengah betis”.

Telitilah dirimu!, kalau seandainya memanjangkan kain itu diperbolehkan dengan syarat tanpa kesombongan, lalu apa faedah dari hadits-hadits di atas? Apakah seseorang yang bodoh lebih-lebih yang berakal berprasangka bahwa apa yang dikatakan Nabi itu sia-sia belaka ?, Lalu di mana firman Allah: “Dan tidaklah Muhammad berkata deengan hawa nafsunya.” (QS. An-Najm: 03). Dan di mana sabda Nabi kepada Abdullah ibnu Umar ketika beliau Saw. mengisyaratkan dengan jari telunjuknya ke arah mulutnya, lalu beliau berkata : “Tulislah!, demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidaklah keluar dari mulut ini kecuali haq (kebenaran).” (HR. Abu Daud (3646), Ahmad 2/162, 192, Ad Darimi dalam muqaddimahnya)

Lihat lagi hadits Ibnu Umar !, ketika Rasulullah menyuruhnya untuk mengangkat kain, dan menegaskan agar mengangkatkannya lagi sampai setengah betis. Begitu pula hadits Hudzaifah seperti yang belum jauh kami sebutkan. Dan hadits-hadits lainnya yang menerangkan tentang keharusan seorang muslim dalam menyikapi pakaiannya, di mana hadits-hadits tersebut tidaklah mensyaratkan kesombongan.

Syubhat ke-Tiga :
Ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi keluar dalam keadaan isbal:

Hadits Pertama:
Artinya:
“Dari Abu Bakarah berkata: Ketika terjadi gerhana matahari, kami sedang bersama Nabi Saw., beliapun berdiri dengan kainnya yang terjulur karena terburu-buru sampai beliau datang ke masjid dan manusia sedang berkumpul disana lalu sholat dua raka’at” (HR. Bukhari 2/526, 547, 10/255, Nasa’I 3/127, 146, 152)

Hadits Kedua:
Artinya:
”Dari Nu’man bin Basyir berkata: terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah, lalu beliaupun keluar dengan kainnya yang terjulur karena takut, sampai beliau mendatangi masjid dan shalat bersama kami sampai hilang (gerhananya).” (HR. Abu Daud (1193), An Nasa’i 3/141, Ibnu Majah (1262) dan sanadnya shahih)

Hadist Ketiga:
Artinya:
“Dari Abu Said Al Khudriy berkata: Aku keluar bersama Rasulullah Saw. pada hari senin ke Quba’, sampai ketika kami melewati Bani Salim, Rasulullah berdiri di pintu rumah ‘Itban, beliaupun meneriakinya lalu ia keluar dengan kainnya yang terjulur. Nabi pun berkata: “kami telah membuatnya tergesa-gesa”. (HR. Muslim: 80, 343.)

Hadits Keempat:
Artinya:
“Dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah sholat ashar dan mengucapkan salam pada rakaat ke tiga, kemudian beliau masuk ke rumahnya, berdirilah seorang laki-laki bernama Al Kharbaq, ia memakai kain dengan lengan yang terlalu panjang (isbal), lalu berkata: wahai Rasulullah, (ia pun menyebutkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah), kemudian Rasulullah keluar dalam keadaan marah dengan sorban yang terjulur, setelah sampai kepada khalayak ramai, beliau berkata: “benarkah yang dikatakan orang tadi ?” (HR.Muslim (101), (574), Abu Daud (1018), An nasa’i 3/26, Ibnu Majah (1215)
Jawaban :

Ya, memang telah disebutkan dalam riwayat bahwa beliau keluar dalam keadaan kain yang terjulur, tapi bukan berarti ini bisa dijadikan dalih bagi orang yang mengatakan bolehnya isbal apabila tidak disertai sombong, itu disebabkan karena hadits-hadits di atas menyebutkan tentang keadaan isbalnya kain dalam keadaan tertentu, seperti terburu-buru, takut atau marah, dan ini jelas menunjukkan ketergesaan serta tidak adanya maksud memakai dalam bentuk seperti itu, seseorang tersebut tergesa-gesa dan terjulur kainnya, karena ia tidak pelan-pelan dalam memakainya, dan makna seperti ini sungguh sangat jelas dalam hadits-hadits yang menyebutkan tentang menjulurnya kain dengan alasan-alasan tertentu saperti kasus di atas.

Berkata Imam Nawawi : (arti dari menjulurkan sorban dalam hadits diatas) ialah dikarenakan Rasulullah terlalu sibuk dengan urusan sholat, sehingga beliau keluar dengan tanpa menyadari bahwa sorbannya terjulur, dan itu karena beliau tidak pelan-pelan ketika memakainya. (Dalam Ta’liq shahih Muslim hal. 405, 5/70 dengan syarah Imam Nawawi)

Begitu pula sabda Rasulullah Saw. tentang ‘Itban, ketika ia keluar dengan kain yang terjulur : “Kami telah membuatnya tergesa-gesa” yaitu, (kami telah membuatnya tergesa-gesa ketika ia baru saja menyelesaikan keperluannya dengan istrinya, dan belum memungkinkan untuk memakai pakaiannya), yaitu (kalau seandainya saja kami pelan-pelan dan tidak membuatnya tergesa, maka ia tidak akan keluar dengan kainnya yang terjulur), dan kalaupun perkaranya tidak seperti itu, kenapa Rasulullah sampai berkata : “Kami telah membuatnya tergesa-gesa” ?, serta perbuatan beliau ketika sorbannya terjulur karena terburu-buru, hal seperti ini telah keluar dari kategori isbal, karena memang ada perbedaan besar antara orang yang menyengaja mamakainya isbal, dengan orang yang sebenarnya kainnya pendek tetapi terjulur karena suatu sebab, berkata Ibnu Hajar: “Dalam hadits ini kalau seandainya isbal itu disebabkan oleh ketergesaan, maka tidak masuk dalam kategori larangan, seolah-olah larangan itu ditujukan kepada yang sombong (ketika memakainya), sebagaimana (hadits di atas) tidak bisa dijadikan dalih bagi orang yang menganggap bahwa larangan tersebut untuk selain yang meniatkan sombong, sehingga ia membolehkan (bagi dirinya) untuk memakai pakaian yang panjangnya menjulur sampai ke tanah.” ( Fathul Baari 10/255)

Sebelum selesai aku menasehatkan kepada saudaraku sesama muslim, hendaknya menjadikan para Salaf sebagai qudwah dan menjadikan Nabi sebagai uswah, seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
“ Sungguh terdapat pada diri Rasulullah bagi kalian uswatun hasanah, bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan banyak berdzikir kepada Allah.“ ( QS. Al ahzab :21)

Orang yang selalu berharap dari Allah untuk memperoleh rizki yang baik di dunia, dan tempat yang baik di akhirat, maka seharusnya ia berqudwah dengan Rasulullah Saw.dalam perkara kecil lebih-lebih yang besar sebisa mungkin, karena beliau tidak pernah memandang remeh perkara ini, bahkan beliau menganggapnya besar dan penting,untuk itu kita dapati beliau saw. mengejar seorang yang kainnya terlihat terjulur panjang, beliaupun menaruh tangannya di kening beliau tawadhu’ kepada Allah ketika melihat seseorang yang kainnya panjang terjulur, dan begitulah beliau Saw. menganggap perkara ini sebagai dosa besar, begitupun sahabat-sahabat beliau Radhiallahu ‘anhum mereka tidak memakai kain kecuali di atas mata kaki, dan mayoritas mereka memakainya sebatas setengah betis, sebagai bukti ketaatan mereka kepada Rasulullah dan mempraktekkan perintahnya.

Tidak seperti halnya yang diyakini oleh “sebagian orang yang tidak tahu”, mereka mengatakan bahwa kain pada waktu itu sangat sedikit dan para sahabat kebanyakan miskin tidak mempunyai harta untuk membeli pakaian mereka, dan mungkin ungkapan-ungkapan lain yang mereka lontarkan, kalau seandainya mereka mau meneliti kembali teks-teks yang kami telah sebutkan sebagiannya niscaya mereka akan mengetahui bahwa mereka telah mengatakan dengan sembarangan pada apa-apa yang mereka tidak tahu, dan mereka mengatakan dengan tanpa ilmu padahal sebenarnya tidak seperti apa yang mereka sangka, bahkan mereka para sahabat lebih memilih untuk ittiba’ kepada Nabi sebagaimana itu sudah menjadi keinginan hati mereka.

Adapun ada yang menjadikan hadits dibawah ini menjadi hujjah bahwa yang haram hanya yang sombong
عن أبِي تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيِّ عن جَابِرٍ ، ـ يَعني ابنَ سُلَيْمٍ ـ قال: «أتَيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُحْتَبٍ بِشَمْلَةٍ وَقَدْ وَقَعَ هُدْبُهَا عَلَى قَدَمَيْهِ» (رواه أبو داود كتاب اللباس,باب في الهدب)
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Tamimah al-Hujaimi dari Jabir bin Sulaim berkata, Aku mendatangi Nabi Saw. (yang sedang dalam keadaan) tertutup badannya dengan mantel (dari kain wol dan juluran kain tersebut hingga kedua kakinya [HR. Abu Dawud, kitab pakaian, bab tepi kain, no. 4075]

namun dalam hadits ini Rasulullah tidak memberikan detail tentang kondisinya, apakah karena lupa, kedinginan, atau hal-hal yang samar sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Justru hadits ini bukti bahwa Rasulullah selalu menjaga isbalnya, karena bila tidak Abu Tamimah al-Hujaimi dari Jabir bin Sulaim tidak akan mebahas tentang kondisi Rasulullah yang pada saat itu isbalnya tertutup. Ini bisa dibuktikan dengan hadits ini

Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata,”Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?” Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)

maka seandainya isbal dikaitkan dengan sombong, maka terbukti Rasulullahpun tidak semerta-merta menganggap dirinya tidak akan terjerumus dalam kesombongan, sehingga tidak menjaga isbalnya. bukankah terlalu meyakini diri sendiri tidak akan terjerumus dalam kesombongan (saat isbal) adalah salah satu bentuk kesombongan ?

Dan janganlah sampai penjelasan dalil & hujjah yang begitu kuat dan banyak dikalahkan hanya dengan dalil yang samar dan dicari-cari takwilnya

“Dia-lah yang menurunkan al-Quran kepadamu, di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 7). [6]
Walaupun ayat ini membahas ayat al Quran (bukan hadits) namun prinsipnya sama ( janganlah sampai penjelasan dalil & hujjah yang begitu kuat dan banyak dikalahkan hanya dengan dalil yang samar dan dicari-cari takwilnya )

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa hidup itu cuma sekali. Sehingga bila ada perbedaan pendapat, carilah yang paling aman buat kita sehingga insya Allah, kita selamat ketika dimintai tanggung jawab. maka sikap waro (berhati-hati) perlu kita utamakan.
Coba renungkan perbandingan dibawah ini :

Bila kita menjaga celana diatas isbal :
Bila haram mutlak yang benar : kita selamat dan mendapatkan pahala
Bila haram bagi yang sombong yang benar : kita selamat dan tetap mendapat pahala

Bila kita tidak menjaga celana diatas isbal :
Bila haram mutlak yang benar : kita tidak selamat dan mendapatkan dosa
Bila haram bagi yang sombong yang benar : kita selamat tetapi tidak mendapat pahala

Pilih yang mana ???
ingatlah dengan iklan minyak kayu putih cap lang
“ buat akhirat kok pakai coba-coba”

Dengan kemudahan dari Allah inilah yang dapat saya rangkum dan kumpulkan tentang permasalahan isbal, seandainya ada kebenaran ,maka itu datang dari Allah dan apabila ada kesalahan itu datang dari diri saya, dan saya memohon kepada Allah agar menjadikannya bermanfaat.
Maha suci bagi Allah dan sekalian pujian hanya untuk-Nya, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Engkau, aku memohon ampum dan bertaubat padaMu, dan akhir dari do’a kami Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: