Pembaca yang budiman, disebutkan oleh sebagian riwayat bahwa dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pula peristiwa pembelahan dada beliau. Jadi beliau   pernah dibelah dadanya oleh Jibril sebanyak dua kali. selain itu, Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj ini, Nabi juga melihat dan mengalami kejadian yang bervariasi, diantaranya

  1. Beliau ditawari susu dan khamar, lalu beliau memilih susu. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Engkau telah diberi petunjuk sesuai fithrah’. Dalam lafazh yang lain, disebutkan bahwa ‘Engkau telah mengenai fithrah, sedangkan andai kata engkau mengambil khamar tentu umatmu akan sesat’.
  2. Beliau melihat 4 buah sungai di surga, dua sungai nampak dan dua lagi tersembunyi. Dua sungai yang nampak ini adalah sungai Nil dan Eufrat, yakni unsur keduanya. Sedangkan yang tidak nampak adalah dua sungai di surga. Barangkali makna melihat sungai Nil dan Eufrat tersebut adalah sebagai isyarat akan eksisnya Islam pada kedua wilayah dimana kedua sungai tersebut berada. Wallahu a’lam.
  3. Beliau melihat malaikat Mâlik, penjaga neraka yang perawakannya tidak pernah tertawa, di wajahnya tidak terpancar kegembiraan dan keceriaan.
  4. Beliau juga, melihat surga dan neraka. Beliau melihat para pemakan harta-harta anak yatim secara zhalim. Mereka memiliki bibir seperti bibir onta, mulut-mulut mereka dilempari dengan sepotong api dari neraka seperti batu sebesar genggaman tangan, lalu potongan api itu keluar dari dubur-dubur mereka. Beliau melihat para pemakan riba yang memiliki perut-perut yang buncit. Karena kondisi ini, mereka tidak mampu untuk beranjak dari tempat mereka. Mereka dilintasi oleh keluarga Fir’aun saat akan disodorkan ke neraka lalu mereka diinjak-injak.

Beliau melihat para penzina, diantara tangan-tangan mereka terdapat daging yang gemuk dan segar dan disampingnya terdapat daging yang bernanah dan membusuk. Mereka memakan yang bernanah dan membusuk tersebut dan membiarkan yang gemuk dan segar. Beliau melihat wanita-wanita yang suka membawa masuk para lelaki asing. Beliau melihat mereka (wanita-wanita tersebut) sedang bergelantungan pada payudara-payudara mereka.

  1. Beliau melihat rombongan dari penduduk Mekkah sepulangnya dan ketika pergi. Beliau telah menunjukkan kepada mereka perihal onta yang melarikan diri dan meminum air milik mereka. Air minum ini ada di dalam wadah yang tertutup saat mereka tertidur, lantas si onta tersebut meninggalkan wadah tersebut dalam posisi tertutup. Hal itu telah menjadi petunjuk akan kebenaran pengakuan beliau pada pagi hari dari malam Isrâ`.

Pembaca yang budiman, Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyah kemudian berkata, “(setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj) Tatkala waktu pagi, Rasulullah sudah berada di tengah kaumnya, beliau memberitahukan kepada mereka perihal ayat-ayat Allah yang Agung yang telah diperlihatkan-Nya kepada beliau . Hal ini membuat pendustaan, penyiksaan dan kesadisan mereka terhadap beliau semakin menjadi. Mereka memintanya agar menyebutkan kriteria Baitul Maqdis kepada mereka, lalu Allah menampakkannya kepada beliau sehingga seakan-akan beliau melihatnya dengan mata telanjang. Beliau mulai menceritakan kepada mereka tentang tanda-tanda kebesaran-Nya dan Mereka tidak mampu menyanggahnya dengan sesuatu apapun.

Lalu beliau  juga memberitahukan kepada mereka perihal rombongan ketika beliau masih dalam perjalanan pergi dan sekembali darinya. Beliau juga memberitahukan kepada mereka perihal waktu kedatangan rombongan tersebut. Bahkan, beliau memberitahukan kepada mereka perihal rombongan sebelumnya yang mendahului rombongan tersebut. Dan memang demikianlah realitasnya, seperti yang beliau ucapkan. Namun sayang, bukannya beriman, mereka malah bertambah menghindar. Demikianlah, tipikal orang-orang zhalim yang hanya menginginkan kekufuran. Kemudian Pada momen ini pula, Abu Bakar dijuluki sebagai ash-Shiddiq (Orang yang benar) karena dia membenarkan peristiwa Isrâ`dan Mi’râj manakala orang-orang mendustakannya”.

Pembaca yang budiman, Banyak ayat-ayat yang ringkas tetapi padat menjelaskan ‘illah (alasan) terjadinya rihlah (perjalanan Isra’ dan Mi’raj) seperti ini, salah satunya adalah  Firman Allah :

Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami”. (Q,.s. al-Isrâ`: 1)

Sebab Manakala pengetahuan yang didapat oleh para Nabi bersandarkan kepada penglihatan terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya –sebagaimana makna dari ayat tadi-., maka mereka menjadi semakin bertambah yakin, keyakinan yang tak dapat diukur besarnya. Sebagaimana di dalam pepatah, “mendengar suatu berita tidak sama (orisinilitasnya-red) dengan melihat secara langsung.” Hal ini, membuat mereka sanggup menanggung resiko apapun di jalan Allah, sesuatu yang tidak pernah sanggup dilakukan oleh orang-orang selain mereka dan menjadikan semua kekuatan duniawi bagi mereka ibarat sebelah sayap nyamuk. Mereka tidak mempedulikan derita dan cobaan yang silih berganti menimpa mereka.

Pembaca, banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, misalnya saja Dalam surat al-Isrâ`, kita dapat mengetahui bahwa Allah mengisahkan tentang Isrâ` hanya dalam satu ayat saja, kemudian mulai menyebutkan kebobrokan-kebobrokan orang-orang Yahudi dan kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. Setelah itu, Allah mengingatkan mereka bahwa al-Qur’an adalah memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.

Mungkin sepintas, kita mengira bahwa antara dua ayat pertama tersebut tidak ada kolerasinya satu sama lain padahal hakikatnya bukan demikian. Sesungguhnya, dengan gaya bahasa seperti ini, Allah ingin mengisyaratkan bahwa Isrâ hanya terjadi ke Baitul Maqdis karena orang-orang Yahudi akan dicopot dari jabatan sebagai pemimpin umat manusia akibat banyaknya kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk menduduki jabatan tersebut selanjutnya. Artinya, Allah Ta’ala akan mengalihkan jabatan ini secara praktis kepada Rasulullah sehingga pada diri beliau terkoleksi dua pusat dakwah Ibrahimiyyah sekaligus. Memang sudah saatnya terjadi peralihan kepemimpinan spritual dari satu umat ke umat yang lain, dari umat yang sejarahnya dipenuhi oleh kecurangan, khianat, dosa dan permusuhan kepada umat yang berlimpah dengan kebajikan dan kebaikan-kebaikan dimana Rasul mereka membawa wahyu al-Qur’an yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.

Akan tetapi, timbul pertanyaan, bagaimana bisa terjadi peralihan kepemimpinan ini sementara Rasulullah masih berkeliling di sekitar pegunungan Mekkah karena diusir oleh sekelompok umat manusia?. Pertanyaan ini dengan sendirinya akan menyingkap tirai hakikat lainnya, yaitu rotasi Dakwah Islamiyyah ini hampir mencapai titik klimaks dan akhir, untuk memulai rotasi baru yang jalannya amat berbeda dengan kondisi pertama. Oleh karena itu, kita melihat sebagian ayat-ayat dalam surat al-Isra’ mencakup tentang peringatan nyata dan ancaman serius terhadap kaum Musyrikin dalam firman-Nya

Dan, jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mena’ati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan, berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan, cukuplah Rabb-mu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya”. (Q,.s. al-Isrâ`: 16-17).

Disamping ayat-ayat seperti ini, ada lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan kepada kaum Muslimin perihal pondasi-pondasi peradaban, poin-poin serta prinsip-prinsipnya dimana kemudian terbangun suatu tatanan yang Islami. Seakan-akan mereka telah turun ke bumi untuk mengendalikan urusan-urusan mereka dari berbagai aspeknya lalu membentuk suatu unit yang mapan yang menjadi denyut nadi bagi kehidupan masyarakat. Hal ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah akan mendapatkan tempat perlindungan yang aman, dan disitulah semua urusannya akan eksis dan menjadi sentral bagi penyebaran dakwahnya ke seluruh penjuru dunia.

Pembaca yang budiman, Inilah salah satu dari sekian banyak rahasia rihlah (perjalanan) Isra’ dan Mi’raj yang diberkahi ini. Disebabkan adanya hikmah seperti ini dan semisalnya, maka kami berpendapat bahwa momen Isrâ` hanya terjadi dalam salah satu dari dua alternatif saja, menjelang Bai’at al-‘Aqabah yang pertama atau antara dua Bai’at al-‘Aqabah tersebut,

wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: