Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.أَمَّا بَعْدُ

Saudara kaum muslimin Rohimakumulloh

Pada kesempatan ini, kita akan mengkaji fikih Islamtentang jenis-jenis air yang digunakan untuk bersuci. Semoga pembahasan bermanfaat dan menjadi bekal berharga dalam memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan pemahaman dan pengamalan Rosululloh dan para sahabatnya.

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Bersuci dari hadats dan najis adalah syarat diterimanya shalat seseorang. Begitu pula ibadah-ibadah yang mewajibkan thoharoh seperti thawaf dan membaca al-Qur’an dengan memegang mushaf. Alloh Ta’ala telah menetapkan air sebagai alat yang digunakan untuk bersuci.Alloh Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Furqan ayat 48:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Kami turunkan dari langit air yang suci dan dapat menyucikan.”

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Para ulama fikih telah merinci jenis air yang hukumnya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada air mutlak, air musta’mal, air yang bercampur dengan sesuatu yang suci, dan air yang bercampur dengan sesuatu yang najis.

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Jenis air yang pertama adalah air mutlak. Yaitu air yang suci dan dapat digunakan untuk bersuci. Seperti air hujan, air laut, air es, air embun, air mata air, air sungai, air laut, air zam-zam, dan lain-lain.Alloh Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Furqan ayat 48:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Kami turunkan dari langit air yang suci dan dapat menyucikan.”

Imam Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rosululloh, “Wahai Rosululloh, kami berlayar ke laut dengan membawa sedikit air. Jika air itu kami pakai berwudhu, kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut saja?” Rosululloh:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”

Dalam doa istiftah, Rosulullohbersabda:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Alloh, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Alloh, bersihkanlah aku dan kesalahan- kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Alloh, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan air es.”

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Termasuk ke dalam jenis air mutlak adalah air yang tercampur karena telah lama tergenang pada suatu tempat atau karena bercampur dengan benda yang dapat merubah dzat air tersebut, seperti air yang dipenuhi oleh lumut atau ganggang atau bercampur dengan daun-daun yang membusuk.

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Jenis air yang kedua adalah air Musta’mal. Yaitu air sisa wudhu atau mandi. Maksudnya adalah air yang menetes dari sisa bekas wudhu seseorang, atau sisa bekas air mandi janabah. Air yang telah digunakan untuk thoharoh tersebut kemudian masuk lagi ke dalam penampungan. Para ulama seringkali menyebut air jenis ini air musta’mal.

Air musta’mal berbeda dengan air bekas mencuci tangan, atau membasuh muka atau bekas digunakan untuk keperluan lain, selain untuk wudhu’ atau mandi janabah. Sehingga air bekas mandi biasa bukan mandi junub, tidak disebut sebagai air musta’mal.

Hukum jenis air ini adalah sama dengan hukum air mutlak yaitu suci dan mensucikan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa’I bahwa sahabat Ibnu Abbas berkata, “Sebagian istri-istri Nabi mandi di dalam satu bak. Kemudian, Rosululloh datang dan endak berwudhu dari air tersebut atau hendak mandi. Maka, istrinya berkata, ‘Ya Rosululloh, saya ini junub.’ Beliau menjawab:

« إِنَّ الْمَاءَ لاَ يَجْنُبُ »

“Sesungguhnya air tidak menjadi junub.”

Dalam kitab Ainul Ma’bud dijelaskan bahwa hadits ini dijadikan dalil atas sucinya air musta’mal. Air tidak menjadi junub dengan mandinya orang yang junub dari air di kolam tersebut.

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Jenis air yang ketiga adalah air yang bercampur dengan sesuatu yang suci.Seperti air yang bercampur dengan sabun, minyak za’faran, tepung, dan lainnya yang dapat merubah dzat air. Hukum air ini adalah suci, selama masih dianggap sebagai air murni. Apabila secara adat sudah tidak dapat dikatakan sebagai air, maka ia pun tetap suci, namun tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Hal berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shohihnya bahwa Ummu Athiyyah berkata:

دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ فَقَالَ: « اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ »

“Nabi masuk menemui kami disaat kami memandikan anak putrinya. Beliau bersabda: Mandikanlah tiga kali, lima kali atau lebih jika dipandang perlu dengan campuran air dan daun bidara.”

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Jenis air yang keempat adalah air air yang bercampur dengan sesuatu yang najis.Hal ini masih mempunyai dua kemungkinan, yaitu:Pertama, jika najis tersebut merubah rasa, warna, dan bau air tersebut, maka airnya tidak dapat digunakan untuk thoharoh. Kedua, jika najis tersebut tidak merubah salah satu dari dzat air, sehingga secara adat pun air tersebut masih dianggap sebagai air, maka hukumnya suci dan mensucikan.

Imam Muhammad bin Ismail as-Shon’ani menukil perkataan Imam Ibnul Mundir dalam kitabnya Subulusalam bahwa beliau berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa air sedikit dan banyak jika ada najis yang jatuh ke dalamnya lalu mengubah rasa atau warna atau baunya maka air itu najis. Maka ijma’ ulama ini adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya.”

Saudara Kaum Muslimin Rohimakumulloh…

Demikianlah pembahasan fikih tentang jenis-jenis air. Semoga pembahasan ini bermanfaat. Wallohu a’lam…

Ust. Abu Mujahidah

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: