Bidang Perempuan Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau  KAMMI menjadi bagian dari Gerakan Menutup Aurat atau Gemar untuk kampanye penggunaan jilbab. KAMMI memandang jilbab adalah perintah agama sekaligus bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia.

Ketua Bidang Perempuan PP KAMMI, Anis Maryuni Ardi mengatakan, Gemar adalah gerakan bersama komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Partisipasi KAMMI di Gemar karena jilbab atau penutup aurat sekarang oleh sebagian orang dianggap sebagai budaya Arab. Anis menambahkan bahwa bukan budaya Arab sebab di Indonesia juga sudah ada budaya jilbab sejak dulu.

Dia menjelaskan masyarakat Padang, Wajo, Aceh dan Ternate sudah mengenal jilbab sejak dulu. Kerajaan Melayu mengenal jilbab dengan sebutan baju kurung. Para kaum perempuan di Keraton Yogyakarta pada masa Hamengkubuwono satu sampai empat juga memakai jilbab.

Selain itu, saat terjadi Perang Padri di Sumatra Barat dibuat peraturan oleh kaum Padri agar Muslimah memakai jilbab ketika keluar rumah. Artinya kebudayaan di Indonesia berjalan beriringan dengan syariat Islam sejak dulu.

Anis menegaskan, masyarakat Indonesia dulu tidak saling mendiskreditkan antara budaya dan syariat Islam.

Berdasarkan hasil diskusi Bidang Perempuan PP KAMMI, dia menjelaskan, jilbab sebenarnya tidak boleh dianggap sebagai sebuah simbol kompetisi identitas dan simbol politik. Masyarakat Indonesia secara umum sudah menganggap jilbab sebagai pakaian umum masyarakat, bukan sebagai budaya impor. (khazanah.republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: