Klik link http://fajribandung.com/hakikat-thoharoh-dalam-islam/

Islam adalah agama yang sangat memerhatikan kesucian dan kebersihan. Baik kebersihan dan kesucian batin maupun kebersihan lahir. Segala yang mengotori iman dan hati seseorang diharamkan di dalam Islam.Seperti kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, hasad, tamak, kikir, bakhil, dan beragam dosa lainnya.

Manusia secara umum, dan khususnya orang beriman diperintahkan Alloh untuk berthoharoh maknawi, yaitu menyucikan dan membersihkan diri dari kotoran dan najis batin yang menodai iman. Karenanya, Islam senantiasa memerintahkan untuk bertaubat. Sebab taubat adalah cara bersuci dan membersihkan diri dari kotoran dan najis maknawi. Alloh berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang sebanar-benarnya. Mudah-mudahan Rabb kalian mengampuni kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian kedalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. at-Tahrim [66]: 8)             

Agama Islam juga sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian secara lahir. Bahkan, thoharoh secara lahir yaitu membersihkan diri dari najis dan hadats memiliki kedudukan penting dalam beribadah. Di antara kedudukan agung thoharoh secara maknawi tersebut adalah:

 Pertama, Suci dari najis dan hadats adalah syarat sahnya sholat seorang hamba.

Sholat merupakan bentuk ibadah pendekatan diri seorang hamba kepada Alloh Ta’ala. Dalam ibadah sholat, seorang hamba sedang bermunajat kepada Alloh Ta’ala. Oleh karena itu, hamba yang hendak sholat diwajibkan dalam keadaan suci dari najis dan hadats. Rasul Alloh bersabda:

« لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ ».

“Tidak diterima sholat seseorang di antara kalian jika dalam keadaan hadats hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Mengerjakan sholat dengan bersuci adalah bentuk pengagungan kepada Alloh .Seorang hamba wajib suci dari najis dan hadats. Najis harus dibersihkan karena ia adalah kotoran. Sementara hadats harus diangkat dengan thoharoh yang sudah ditentukan. Seperti mandi bagi yang junub dan berwudhu. Suci dari hadats ketika hendak beribadah adalah bentuk pengagungan kepada Alloh .

 Kedua, Orang yang bersuci dicintai dan dipuji Alloh .

Senantiasa bersuci secara lahir dan batin merupakan sebab meraih kecintaan Alloh danRasul-Nya. Hal ini berdasarkan firman Alloh :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”(QS. Al-Baqoroh [2]: 222)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna makna orang-orang bertaubat dalam ayat ini adalah taubat dari dosa dan orang yang menyucikan diri adalah orang-orang yang membersihkan diri dari kotoran-kotoran.

Syekh Abdurrahman bin nashir as-Sa’di menjelaskan bahwa bersuci dalam ayat ini mencakup secara maknawi dan pula mencakup makna indrawai, yaitu bersuci dari najis dan hadats.

 

Ketiga,Kelalaian membersihkan diri dari najis merupakan salah satu sebab siksa kubur.

Tidak bisa menjaga diri dari nasjis seperti buang air kecil dan besar di sembarang tempat dan tidakbersuci dengan baik merupakan sebab siksa kubur. Berkaitan dengan hal ini terdapat riwayat shohih dalam kitabShohih al-Bukhori dan shohih Muslim:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ فَقَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا.

Ibnu Abbas meriwayatkan hadits bahwaRosululloh melewati dua kuburan. Lalu beliau bersabda, “Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar. Salah satu dari dua orang ini, semasa hidupnya tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia gemarmenebar namimah (mengadu domba).”Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah. Beliau membelahnya menjadi dua. Lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, “WahaiRosululloh, mengapa Anda melakukan ini?” Beliau menjawab, “Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhoridan Muslim)

 

Ada banyak hikmah mengapa terdapat syariat bersuci dalam Islam. Di antaranya adalah:

 

Pertama, Bersuci merupakan naluri manusia. Secara naluriah, manusia cenderung ingin bersih dan jijik melihat yang kotor dan dekil. Sebagai agama yang fitrah, sudah selayaknya Islam meminta umatnya untuk bersuci dan menjaga kebersihan.

 

Kedua, Dengan bersuci, kehormatan dan wibawa sebagai seorang Muslim akan lebih terjaga. Fitrah manusia memang menyukai kebersihan, senang berkumpul dan duduk di tempat yang bersih. Sebaliknya, mereka merasa jijik dan menghindar dari segala hal yang kotor-kotor.Mereka tidak suka menghampiri orang yang tidak bersih untuk duduk di dekatnya. Sebagai agama yang sangat memerhatikan kehormatan dan wibawa umatnya,

 

Ketiga, Islam meminta agar mereka selalu bersih. Dengan begitu, mereka akan dihormati dan dimuliakan oleh rekan-rekan sejawat.

 

Keempat, Agar kesehatan terjaga. Kebersihan merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjaga kesehatan. Banyak sekali penyakit yang berjangkit di mana faktor penyebabnya adalah lingkungan yang kotor dan kumuh.

 

Kelima, Membersihkan badan, mencuci muka, tangan, hidung, dan kaki beberapa di dalam sehari dapat menjaga tubuh dari penyakit. Semua anggota tubuh yang dibasuh ini paling banyak bersentuhan dengan benda-benda kotor.

 

Keenam, Agar dapat menghadap Alloh dalam keadaan suci bersih Dalam sholat, sebenarnya kita berbicara dan bermunajat kepada Alloh. Sudah sepatutnyalah kita suci, baik lahir maupun batin, suci hati dan badan, ketika menghadap Alloh karena Alloh menyukai orang-orang yang bertobat lagi menyucikan diri.

 

Demikianlah yang dapat disampaikan terkait kedudukan thoharoh dalam islam. Semoga bermanfaat. Allohuma amin

Ust. Abu Mujahidah

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: