Niat merupakan masalah penting dalam beribadah kepada Alloh . Diterima tidaknya ibadah kita, sangat bergantung kepada niatnya. Jika niat kita benar dan ikhlas, maka ibadah kita akan diterima. Sebaliknya, jika niat kita salah dan tidak ikhlas, maka ibadah kita akan tertolak. Rosululloh bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. Sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya. Barangsiapa yang berhijrah dan hijrahnya diniatkan untuk Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya dicatat sebagai amalan hijarh untuk Alloh dan Rosul-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang berhijrah dalam rangka ingin meraih kemewahan dunia, atau ingin mendapatkan seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya dicatat sebagai hijrah untuk meraih kemewahan dunia dan mendapatkan wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim, dan lafadz hadis ini adalah lafadz Muslim)

Berdasarkan hadis ini dapat disimpulkan bahwa setiap amal ibadah yang kita lakukan haruslah diiringi dengan niat.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan niat dan di manakah letak niat tersebut?

Pembahasan tentang makna niat dan letaknya adalah pembahasan penting. Hal ini Disebabkan adannya kesalahan yang tersebar di masyarakat kita terkait dengan pengamalan niat ini. Terutama yang berkaitan dengan melafalkan niat. Bahkan kesalahan ini, telah diajarkan kepada anak-anak kaum muslimin semenjak dini. Oleh karena itu, kita harus mengetahui hakikat yang sebenarnya tentang melafalkan niat.

Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengatakan terkait tentang makna niat dan tempatnya dalam kitab asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zadil Mustaqni’ halaman jilid satu, halaman 356:

Secara bahasa niat itu adalah al-Qosdu yaitu keinginan. Sedangkan secara istilah niat adalah:

عَزْمُ القلب على فعل الشَّيء عَزْماً جازماً، سواء كان عبادة، أم معاملة، أم عادة ومحلُّها القلب، ولا تعلُّق لها باللِّسان، ولا يُشْرَع له أن يتكلَّم بما نَوَى عند فِعْلِ العبادة.

“Keinginan dan tekad bulat dalam hati untuk mengerjakan suatu amal perbuatan. Baik amalan ibadah, muamalah maupun kegiatan rutin sehari-hari. Tempat niat itu ada di dalam hati dan tidak dilafalkan dengan lisan. Bahkan, tidak disyariatkan melafalkan niat ketika melakukan ibadah.”

Sebelum Ibnu ‘Utsaimin , banyak juga ulama lainnya yang menyatakan bahwa niat itu dalam hati dan tidak dilafalkan:

Imam Ibnu Abil ‘Izz berkata: “Tidak seorang pun dari para imam yang empat walaupun asy-Syafi’i dan selainnya mengisyaratkan agar melafazkan niat. Adapun niat itu tempatnya di hati sebagaimana disepakati oleh semua ulama.” (Lihat: الامر بالاتباع والنهي عن الابتداع . hlm. 62)

Ulama lainnya, Ibnul Qoyyim juga berkata dalam kitab Zadul Ma’ad: “Rosululloh apabila berdiri untuk solat mengucapkan Alloh Akbar. Tidak pernah beliau berkata sesuatu sebelumnya dan sama sekali tidak pernah melafazkan niat. Beliau tidak pernah melafazkan’ ‘Saya niat sholat menghadap kiblat empat rakaat imaman atau makmuman karena Allah.’ Tidak pernah melafazkan “adaan” secara tunai atau qadhoan atau difardukan, karena semua itu adalah bid’ah. Tidak pernah dinukil dari beliau melafalkan niat sama sekali baik melalui (hadis) sahih, hadis lemah, dari musnad atau berupa hadis mursal walaupun satu lafaz darinya. Demikian juga tidak pernah dinukil Atsar walaupun dari seorang sahabat, tabiin, dan tidak juga dari para imam yang empat.. (Lihat1) .زاد المعاد : /201). Ibn al-Qaiyim)

Adapun mereka yang melafalkan niat berdasarkan perkataan Imam Syafi’i yang berkaitan dengan ibadah manasik haji yaitu:

إذا نوى حجا أو عمرة أجزأ وان لم يتلفظ وليس كالصلاة لا تصح الا بالنطق

“Jika seseorang berniat untuk haji dan umroh maka sah haji dan umrohnya sekalipun tidak dilafazkan. Dan ini tidak seperti solat ia tidak sah kecuali dengan dilafazkan yaitu melafadzkan takbir.”

Maka Imam Nawawi menjawabnya dalam kitabnya al-Majmu’:

قال اصحابنا غلط هذا القائل وليس مراد الشافعي بالنطق في الصلاة هذا بل مراده التكبير

“Berkata para sahabat kami dalam madzhab Syafii: Telah keliru orang yang mengatakan bahwa sholat itu tidak sah kecuali diniatkan dalam hati dan dilafalkan dengan lisan, dengan dalil perkataan Imam Syafii ini. Karena bukan itu yang dimaksudkan oleh Imam asy-Syafi’e tentang apa yang diucapkan pada sholat, tetapi yang dimaksudkan ialah supaya mengucapkan takbir dan bukan mengucapkan niat.” (Lihat: .المجموعة 2 /234)

Dari perkataan Imam Nawawi tadi, jelaslah bahwa apa yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin dengan melafalkan niat dalam setiap ibadahnya adalah amalan yang keliru sehingga harus diluruskan. Bahkan tak sedikit para ulama yang mengatakan bahwa melafalkan niat itu adalah bid’ah.

Abu Abdillah Muhammad bin al-Qasim at-Tunisi al-Maliki berkata, “Niat adalah pekerjaan hati, melafazkannya adalah bid’ah. Apalagi jika mendatangkan was-was kepada orang lain.” (Lihatالقول المبين فى اخطاء المصلين : . Hlm. 91. Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud binSalman. Dar Ibn al-Qaiyim)

Berkata Syeikh ‘Alauddin bin al-‘Attar , “Mengangkat suara ketika berniat sehingga mengganggu orang lain yang sedang sholat adalah haram secara ijma’ dan melakukannnya adalah bid’ah yang tercela. (Lihat: مجموعة الرسائل الكبرى /, Ibn Taimiyah)

Imam as-Suyuti asy-Sayfii juga berkata, “Berniat sehingga menimbulkan was-was ketika mendirikan sholat tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak pula berlaku pada para sahabat. Mereka semua tidak pernah melafazkan niat ketika mendirikan sholat selain takbir.” (Lihat: القول المبين فى اخطاء المصلين . Hlm. 92. Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud binSalman. Dar Ibn al-Qaiyim)

Dari uraian ini, jelas bagi kita bahwa melafalkan niat bukanlah perkara yang ada tuntunannya dari Rosululloh . Cukuplah hati kita yang meniatkan ketika kita melakukan setiap ibadah kepada Alloh . Karena dengan meniatkan dihati, disamping ibadah kita diterima, juga berarti kita telah mengikuti tuntunan Rosululloh . Wallohu a’lam

Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: