Srilanka menjadi satu-satunya negara di antara 182 anggota WHO yang mengatur kebijakan bahwa semua jenazah pasien Covid-19 harus dikremasi. Kebijakan ini juga berlaku pada jenazah muslim.

Dikutip dari BBC Indonesia, Srilanka disinyalir menjadikan situasi pandemi Covid-19 sebagai ajang untuk mendiskriminasi muslim.

BBC News Indonesia melaporkan, seorang muslimah Sri Lanka, bernama Fathima Rinoza pada 4 Mei 2020 lalu dirawat di rumah sakit dengan kasus terduga sebagai pasien positif Covid-19.

Putra Fathima mengatakan, dia dipaksa menandatangani surat yang mengesahkan kremasi sang ibu. Di bawah hukum Islam, kremasi dianggap sebagai pelanggaran terhadap tubuh manusia.

Keluarga Fathima telah bergabung dengan orang lainnya dalam komunitas Muslim Sri Lanka yang mengkritik pemerintah karena menggunakan pandemi untuk mendiskriminasi mereka.

Komunitas ini mengklaim pihak berwenang memaksa mereka untuk mengkremasi jenazah keluarganya, meski menurut pedoman WHO, korban sebenarnya dapat dikuburkan sesuai syariat Islam.

Ali Zahir Maulana, seorang mantan menteri dan kandidat dalam pemilihan umum mendatang berujar bahwa komunitas muslim akan menerima keputusan pemerintah jika ada bukti atau dukungan ilmiah untuk membuktikan bahwa pemakaman sebenarnya berbahaya bagi kesehatan masyarakat. (islampos.com/admin)

%d blogger menyukai ini: