Artikel sebelumnya http://fajribandung.com/syiah-agama-penghujat-sahabat-rasulullah-shallallahu-alaihi-wasallam-1/

Disini kita akan kemukakan beberapa contoh dari kitab Syiah Imamiyah Ithna Asyariyyah sendiri bahwa mereka mengatakan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah murtad sepeninggal Baginda. Pendapat mereka ini tidak berbeda dari dahulu sampai sekarang.

  1. At-Tusi meriwayatkan dalam “Rijal al-Kasyi” bahawa Abu Ja’afar (Muhammad al-Baqir) berkata bahawa para sahabat telah murtad setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghiffari dan Salman al-Farisi (Rijal al-Kasyi j.1 hal.6)
  2. At-Tusi meriwayatkan lagi dari Humran katanya; Aku berkata kepada Abu Ja’far “Alangkah sedikitnya bilangan kita sehingga kalau kita berkumpul untuk merebahkan seekor biri-biri pun tidak akan mampu”. Humran berkata: Maka Abu Ja’far berkata “Mahukah aku ceritakan perkara yang lebih aneh dari itu?”. Humran berkata “Ya”. Maka Abu Jaa’far berkata “Orang-orang Muhajirin dan Ansar telah pergi (murtad) kecuali tiga (dan beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya).” (ibid)
  3. Diriwayatkan dari Abi Jaa’far as “Anak-anak Ya’qub bukan nabi tetapi mereka adalah cucu dari anak-anak para Nabi. Mereka tidak meninggalkan dunia melainkan didalam keadaan bahagia. Mereka telah bertaubat dan menyesal diatas apa yang mereka lakukan tetapi Abu Bakar dan Omar telah meningal dalam keadaan tidak bertaubat dan tidak menyesali apa yang telah dilakukan oleh mereka terhadap Amirul Mu’minin Ali Rhadiallahu’anhu. Mereka berdua dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (Al-Kulaini, ar-raudhah min al-kafi, j. 8, hal 246)
  4. Diriwayatkan dari Abi Jaa’far as kata beliau “Para sahabat telah murtad sepeninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang dari mereka.” Perawi bertanya “Siapakah yang tiga itu?”. Abi Jaa’far menjawab “Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghiffari dan Salma al-farisi.” (ibid hal.246)
  5. Ayatullah al-Uzma sayyid Murtadha al-Hussaini al-Fairuzabadi didalam kitabnya “As-sab’ah min as-salaf” telah mengkafirkan Abu Bakar, Omar, Othman, Abd. Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah al-Jarrah, Muawiyah, Abu Said al-Khudri, Bara’ bin Azib dan lain-lain (Lihat hal. 29,32,71,78,81,85,107,120 dan 211)
  6. Ayatullah al-Uzma Khomeini didalam kitabnya “Kasyful al-asrar” telah mengkafirkan Saidina Omar (lihat hal 137 dan 176 edisi Arab dan hal 119 dan 153 edisi Parsi). Beliau menganggap Abu Bakar dan Omar jahil tentang hukum Allah dan mereka menjadikannya sebagai bahan permainan kanak-kanak (hal 110-111 edisi Parsi). Beliau juga menuduh Abu Bakar dan Omar mereka hadis atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (hal 131 dan 138 edisi Arab, 114 dan 120 edisi Parsi)
  7. Syaikh kaum Rafidhah yang bernama Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Telah datang beberapa riwayat khusus yang menerangkan bahwa setan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi neraka Jahannam, lalu digiring ke Padang Mahsyar. Di sana setan melihat seorang lelaki di hadapannya yang sedang digiring oleh malaikat penyiksa dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari neraka Jahannam. Setan pun mendekat kepadanya dan bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh orang sengsara ini sehingga siksaannya lebih berat dariku, padahal akulah yang menyimpangkan seluruh makhluk dan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan?’ Umar berkata kepada setan, ‘Aku tidak melakukan sesuatu pun selain merampas khilafah Ali bin Abi Thalib’.” (al-Anwar an- Nu’maniyah, 1/81—82)

Syiah yang berkembang di Indonesia adalah penghujat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Syiah yang berkembang di Indonesia adalah syiah Rofidhoh yaitu “penghujat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam“. Di indonesia tidak berkembang kecuali satu aliran syiah yaitu syiah imamiyah ithna asyariyah yang di impor dari Iran. Kebencian sekte ini kepada sahabat telah dijelaskan sebagaimana terdapat pada literatur literatur utama mereka yg telah disebutkan diatas. Janganlah kita tertipu oleh ucapan orang yang mengatakan bahwa syiah di Indonesia dapat dibagi kepada beberapa golongan yang tidak semuanya menghujat sahabat. Tanyakan kepada mereka Siapakah yang mereka puja dan tokohkan? Bukankah si khomeini yang menghujat sahabat dalam buku bukunya? Literatur apakah yang mereka pakai untuk mempelajari agama mereka? Bukankah jawabannya adalah ” Alkafi, Biharul anwar dan kitab kitab rujukan syiah lain yang penuh dengan hujatan kepada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di indonesia prilaku orang orang yang mengaku syiah atau mereka yang tidak mengaku syiah tetapi mendakwahkan pemikiran syiah tidak berbeda jauh dalam hal hujatan mereka kepada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai contoh:

  1. Pemutarbalikan fakta sejarah banyak dilakukan Emilia isteri Jalaludin Rakhmat dalam bukunya berjudul “40 Masalah Syiah”. Pada halaman 83, ia menuduh istri dan sahabat Nabi, Aisyah, Thalhah, Zubayr dan sahabat-sahabat “yang satu aliran dengan mereka” memerangi Imam Ali. “Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Utsman,” tulisnya.
  2. Jalaludin Rahmat yang dalam ceramahnya bersikap sangat tidak sopan kepada Aisyah ra
  3. Husein bin hamid alattas, pengisi kajian rutin di radio “Rasil”, walaupun ia tidak mengakui sebagai “syi’i” tetapi sering melakukan hujatan kepada sahabat. Ia mengakui bahwa ia memang penghujat sahabat Muawiyah ra . (

Klik link http://www.arrahmah.com/read/2012/06/28/21263-husein-bin-hamid-alattas-nyatakan-muawiyah-ra-bukan-sahabat-nabi-dalam-mubahalah.html

Menghujat sahabat adalah konsekuensi Aqidah imamiyah

Mereka meyakini bahwa sebelum meninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat bahwa pemimpin umat sepeninggal beliau adalah Ali bin Abi Thalib ra. Keyakinan ini membawa konsekuensi bahwa naiknya Abu Bakar ra memimpin umat merupakan pengkhianatan kepada wasiat tersebut. Demikian juga dua kholifah setelahnya dan semua sahabat dianggap telah menghianati wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dianggap telah murtad sepeninggal Rasulullah.

Dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini, “Tiga macam manusia yang Allah Subhanahu wata’ala tidak akan melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan mereka mendapat siksaan yang pedih:

  1. orang yang mengakui kepemimpinan dari Allah Subhanahu wata’ala yang bukan miliknya,
  2. orang yang mengingkari imamah yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala, dan
  3. orang yang menyangka bahwa keduanya—Abu Bakr dan Umar memiliki kedudukan di dalam Islam.” (al-Kafi, Kitabul Hujjah, 1/373, Tafsir al-Iyyasyi, 1/178)

Meyakini adanya wasiat imamah kepada Ali ra dan penghujatan kepada sahabat adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Apabila syiah di indonesia mereka mengaku tidak membenci sahabat maka konsekuensinya mereka harus melepaskan keyakinan bahwa Ali ra telah menerima wasiat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini sangat mustahil, kalau mereka melakukan ini maka mereka akan terhukum sebagai orang kafir sesuai dengan ajaran mereka

Kesesatan syiah dalam hal kebencian mereka kepada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja sudah cukup sebagai bahan pertimbangan bahwa mereka tidak layak hidup berdampingan dengan umat islam di Indonesia. Apalagi dikaitkan dengan kesesatan kesesatan mereka yang lain. Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah hati seseorang dengki terhadap salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali menunjukkan bahwa kedengkiannya terhadap kaum muslimin lebih kuat lagi.” (al-Ibanah hlm. 41, karya Ibnu Baththah)

Abu Zur’ah ar-Razi radhiyallahu ‘anhu juga berkata,

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَجْرَحُوا شُهُودَنَا اللهِ لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةُ

“Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq (munafik). Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurut kami adalah benar, al-Qur’an juga kebenaran, serta yang menyampaikan al-Qur’an dan Sunnah kepada kita adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya mereka ingin mencerca saksi-saksi agama kita agar mereka dapat membatalkan al- Kitab dan as-Sunnah. Celaan justru lebih pantas untuk mereka, dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah, Khathib al-Baghdadi, hlm. 49).

Karena itu sudah sewajarnya bila MUI mengeluarkan fatwa tentang kesesatan syiah.

Wallahu’alam bish shawab…

Oleh: Ustadz dr. Haidar Abdullah Bawazir

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: