Manusia memiliki kecenderungan untuk “menawar-nawar” atau berkompromi ketika dikaitkan dengan wahyu. Hal ini sudah terjadi puluhan abad lalu, bahkan sebelum Rasulullah saw diutus untuk membawa ajaran yang sempurna (Islam). Kejadian ini bisa dilihat dalam beberapa ayat Al-Qur’an seperti :

An-Nisaa: 150-151

150.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanankepada) Allah danrasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)”, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir).

 

151. Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.

Al-Baqarah: 85

(85) Kemudian, kamu, merekapun , kamu bunuh diri kamu dan kamu keluarkan sebagian daripada kamu dari kampung halaman mereka, berbantu ­bantuan kamu atas mencelakakan mereka dengan dosa dan pemusuhan; padahal:jika mereka datang kepada kamu sebagai orang-orang tawanan, kamu tebus mereka, padahal , telah diharamkan atas kamu mengeluarkan mereka. Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian ? Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu , melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat­ sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan

dan Al-Hujuraat: 7.

7. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus

Kenapa bisa terjadi demikian? Salah satu penyebab kecenderungan tersebut adalah hakikat wahyu yang memiliki kebenaran abadi. Kebenaran wahyu tidak terikat ruang dan waktu. Ia hadir bagi seluruh umat manusia yang ada di segala penjuru dunia dan yang hidup di semua periode waktu. Sedangkan di sisi yang lain, pemahaman manusia mengenai “kebenaran” bersifat empiris –terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga “kebenaran” yang berasal dari hasil pemikiran manusia bersifat relatif. Sesuatu yang benar kemarin belum tentu benar hari ini, dan yang hari ini benar belum tentu diterima sebagai kebenaran esok hari.

Ketika wahyu yang bersifat absolut ini harus diterapkan kepada manusia yang cenderung berpikir empiris, maka terjadilah “tawar-menawar” didalam menerima wahyu. Dan kadar “tawar-menawar” (bargaining) ini bermacam-macam. Ada yang menawar sedikit, ada yang banyak. Sehingga terjadi pemisahan-pemisahan kelompok berfikir. Mereka yang menawar sedikit (atau tidak menawar sama sekali) cenderung mereka disebut fundamentalis, mereka yang menawar ditengah-tengah disebut golongan moderat, dan yang kebanyakan nawar disebut liberal.

Jika kita memahami hal ini, maka pantaslah apabila Rasulullah saw sebagai seorang pembawa kebenaran sangat dikenal karena kejujurannya. Jujur (siddiq), menyampaikan (tabligh), dan dapat dipercaya (amanah) merupakan tiga dari empat sifat wajib yang ada dalam diri Rasulullah saw yang merupakan syarat mutlak untuk menjadi pembawa kabar yang tanpa cacat. Sedangkan sifat cerdas (fatanah) merupakan tanda kesempurnaannya sebagai seorang pembawa kabar (Rasul).

Ketika keempat sifat mulia ini dikumpulkan dalam satu jiwa, yaitu Muhammad saw sang utusan Alloh (Rasulullah), maka kecenderungan sifat manusia yang suka tawar-menawar itu secara otomatis hilang dalam diri Rasulullah, maka dari itu Rasulullah saw tidak pernah menawar perintah Alloh sedikitpun sebagaimana nabi Ibrahim as menaati perintah Alloh meskipun beliau harus menyembelih anak kesayangannya sendiri, tanpa pertanyaan, tanpa penawaran.

Sikap tanpa “penawaran” itu justru sangat jauh dari kehidupan umat Islam saat ini. Dewasa ini umat Islam cenderung mendahulukan kebenaran relatif yang berasal dari ilmu-ilmu empiris (seperti sosiologi, ekonomi, sejarah, dll) dan menempatkan wahyu (yang direpresentasikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai pembanding, atau sebagai pembenar akan kebenaran-kebenaran semu itu. Bukan sebaliknya.

Maka tidak mengherankan ketika kehidupan umat Islam sangat jauh dari cita-cita ke-Islaman. Muslim saat ini seakan terbiasa hidup di tengah-tengah riba, tasyabbuh, dan bahkan thaghut. Pertanyaannya kemudian apakah kita termasuk golongan itu?

Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang selamat ketika dimintai pertanggungjawaban kelak. Sebagai kewajiban untuk saling mengingatkan, Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hati, dan demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Angga pragina <angga.santri@gmail.com>

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: