Sebuah catatan kecil untuk direnungkan
Oleh : Miftah Wangsadanureja, M.Pd.I
(Direktur Fajri 1458 Am Bandung, disampaikan pada acara Talkshow “Fajri Bicara” hari Jum’at 18 Dhulhijjah 1436 H/02 Oktober 2015)

Mina kembali menelan korban, kenapa kembali..? sebab kejadian ini bukan satu atau dua kali melainkan sudah beberapa kali terjadi. Tragedi kemanusiaan yang sering terjadi dari tahun ke tahun ini (dalam tulisan berikutnya akan disampaikan rentetan sejarah tragedi pada saat ibadah haji berlangsung yang terjadi sejak tahun 1990 s/d 2015) menjadi suatu hal yang menarik untuk diteliti dan dikaji secara mendalam. Hal ini dikarenakan Mina merupakan salah satu tempat yang terdapat diantara kota suci Makkah dan Muzdalifah itu menjadi tempat tujuan kaum muslimin di seluruh dunia untuk beribadah kepada Alloh Swt. Oleh karena itu sangat pantas dan wajar apabila seluruh masyarakat muslim bahkan non muslim dari berbagai belahan dunia menaruh perhatian yang besar terhadap tragedi yang terjadi di kota tenda tersebut.
Berbagai spekulasi pun bermunculan menanggapi berita yang memilukan ini. Ada yang menyalahkan pemerintah Saudi yang tidak beres dalam mengurus jamaah haji, ada yang menguatkan bahwa ini adalah ulah dari 300 jamaah asal Iran, bahkan ada juga yang seakan-akan bijak mengatakan tidak etis kalau menyalahkan Saudi dan Iran…?
Hm… sebagai seorang muslim kita sudah diingatkan jangan menerima kabar yang belum tentu jelas kebenaranannya, artinya kita disuruh untuk tabayun atau meminta kejelasan serta konfirmasi kepada suatu berita, sebagaimana dalam firman Alloh Swt surat al-Hujraat ayat ke 6
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujraat[49];6)
Sebelum kita jauh meneliti kejadian Mina, maka penulis ingin mengingatkan penulis sendiri serta kepada kaum muslimin tentang beberapa catatan yang harus kita renungkan. Diantaranya adalah…

1. Tragedi Mina adalah Musibah….
Ahlusunnah wal jamaah sangat paham betul tentang sebuah konsep takdir baik dan buruk yang menimpa kepada seseorang, sebab beriman kepada takdir baik dan buruknya merupakan salah satu dari rukun iman. Kejadian di Mina yang menelan korban hampir 700 an itu tidak bisa diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan qada dan qadar yang telah ditentukan oleh Alloh Azza wajalla, setiap kita tidak bisa terhindar dari musibah yang akan menimpa diri kita. Coba saja Anda Tanya kepada para jemaah haji sebelum mereka berangkat ke Mina untuk melontar jumrah, apakah mereka tahu apa yang akan terjadi? Apakah mereka sadar bahwa akan ada rombongan 300 jemaah iran yang berlawanan arah..? kalau seandainya mereka tahu tentu mereka akan ancang-ancang alias ambil persiapan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Sekali lagi, tragedi mina ini adalah musibah yang menimpa kaum muslimin yang sedang berhaji di tahun ini. Bagi mereka, ada kabar gembira dari Alloh dan rasul Nya… bahwa orang yang meninggal atau terkena musibah pada sedang berhaji maka dia akan mendapatkan Pahala di jalan Alloh Swt.
من خرج حاجا فمات كتب له أجر الحاج إلى يوم القيامة ومن خرج معتمرا فمات كتب له أجر المعتمر إلى يوم القيامة ومن خرج غازيا فمات كتب له أجر الغازي إلى يوم القيامة
“Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, maka dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, maka ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.” (HR. Abu Ya’la disahihkan oleh Albani dalam Shaih at-targhib 1114)
selain mendapat ujian di tempat yang penuh dengan keberkahan seperti itu bagi para korban ada sebuah kabar gembira dari Alloh Swt, melalui firmannya…
“Dan sungguh, Kami benar-benar menguji kalian dengan sedikit dari rasa takut, lapar, krisis moneter, krisis jiwa dan krisis buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innalilahi wa ina ilaihi rajiun (Kami milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kami akan kembali)’. Mereka lah orang-orang yang mendapatkan keberkahan dan kasih sayang dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al Baqarah[2];155-157).
Adapun yang berpendapat bahwa orang yang meninggal ketika haji termasuk syahid, kemungkinan besar merujuk kepada keumuman hadits yang disampaikan oleh rasullullah saw berikut ini
مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكمُ؟ قَالُوْا : يَارَسُوْلُ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْد. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِداً لَقَلِيْلٌ. قَالُوا : فَمَنْ هُمْ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ سَبِيْلِ الله فَهُوَ شَهَيْدٌ،وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُوْنِ فَهُوَ شَهِيْد، وَمَنْ مَاتَ فِي البَطَنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَالغَرِيْقُ شَهِيْدٌ.
“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian? Mereka menjawab, “wahai Rasulullah siapa yang terbunuh dijalan Alloh maka ia syahid.’ Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid wahai rasulullah?” Tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh dijalan Alloh maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Alloh maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tho’uun maka ia syahid, siapa yang meninggal karena sakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid” (HR. Muslim)
Dan tak diragukan lagi orang yang berpergian menuju ibadah haji dicatat sebagai orang yang berjalan di jalan Alloh Swt, Wallohu a’lam.

Lanjut ke link http://fajribandung.com/tragedi-mina-antara-musibah-dan-sejarah-2/

 

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: