Komisioner Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi atau UNHCR mengapresiasi Pemerintah Indonesia atas pemberian izin pendaratan darurat bagi pengungsi Rohingya di Aceh Utara, setelah beberapa lama mereka berada di atas kapal. Pujian diungkapkan oleh Kepala Perwakilan UNHCR di Indonesia Ann Maymann dalam sebuah pernyataan, Jumat kemarin.

Pada Rabu lalu, kepolisian Aceh mengonfirmasi bahwa nelayan memindahkan para pengungsi ke kapal motor milik mereka pada Senin malam karena kapal pengangkut barang yang sebelumnya ditumpangi pengungsi mengalami kerusakan. Kapal tersebut sempat merapat ke daratan tetapi penumpangnya belum diizinkan turun, menunggu kebijakan otoritas setempat yang mempertimbangkan protokol penanganan Covid-19.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan pada Kamis kemarin bahwa berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, Indonesia akan memberikan bantuan darurat bagi para pengungsi rohingya. Namun ia tidak menjelaskan rincian mengenai bantuan tersebut. Para penumpang kapal akhirnya dievakuasi ke daratan Pantai Lancuk di Kecamatan Syamtalira Bayu pada hari yang sama dengan keluarnya pernyataan Menlu.

Sebelumnya, Kemlu RI melaporkan jumlah pengungsi sebanyak 94 orang, yakni 49 perempuan, 15 laki-laki, dan 30 anak-anak. Namun menurut data termutakhir setelah pengungsi mendarat, jumlahnya 99 orang, terdiri atas 48 perempuan, 17 laki-laki, serta 34 anak-anak berdasarkan catatan UNHCR.

Ann mengungkapkan bahwa Indonesia telah beberapa kali mengambil tindakan yang patut dijadikan contoh oleh negara lainnya di kawasan, setelah memberikan bantuan kemanusiaan dan penyelamatan jiwa bagi orang-orang Rohingya di kapal Aceh pada 2015 dan 2018.

UNHCR menyebut bahwa situasi pandemi membuat negara-negara membatasi mobilitas di pintu masuk wilayahnya, tetapi hal itu sebenarnya dapat diatur sedemikian rupa agar tetap memperhitungkan hak asasi pengungsi. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: